Bukannya Panen Raya, Malah Panen Musibah

Petani Ikan di Situ Gintung:

Bukannya Panen Raya, Malah Panen Musibah

- detikNews
Selasa, 07 Apr 2009 06:49 WIB
Bukannya Panen Raya, Malah Panen Musibah
Jakarta - Sekitar 108 penambak ikan yang berasal dari satu kelurahan yaitu Kelurahan Cirendeu turut merasakan dampak dari musibah jebolnya Situ Gintung. Mereka yang selama ini menggantungkan hidupnya pada tambak yang mereka bangun di wilayah danau Situ Gintung, sekarang terancam kehilangan mata pencahariannya.

Padahal diperkirakan bulan Juli mereka akan panen raya dengan hasil total sekitar 20 ton. Sayangnya hal tersebut hanya menjadi impian semata, musibah Situ Gintung menghancurkan segalanya.

"Bukannya panen raya malah panen musibah" ujar Isdarman yang merupakan Koordinator Kelompok Pejabat (Petani Jaring Apung Budidaya Air Tawar) saat ditemui detikcom di kawasan tambak di Danau Situ Gintung, Tangerang, Banten, Senin (6/4/2009).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Para penambak yang tadinya berharap banyak pada hasil panen raya, tidak tahu sekarang harus berbuat apa."Yang tadinya kita yakin anak kita bisa melanjutkan sekolah, sekarang bingung juga dari mana uangnya" tambahnya.

Total kerugian yang dicapai diperkirakan sekitar Rp 199,5 juta. Sekarang ini untuk jangka pendek mereka memfokuskan pada bagaimana caranya bisa tetap makan. Lalu memikirkan bagaimana untuk menyokong kehidupan keluarga mereka, karena dengan terhentinya aktivitas tambak, tidak ada pendapatan yang masuk.

"Selama ini hanya warga yang terkena langsung yang dikunjungi dan diberi bantuan, sementara kita disini yang juga ikut terkena dampaknya kurang diperhatikan" ujarnya.

Sedangkan untuk jangka panjang, para penambak telah mendapatkan tawaran dari FAO (Food Agriculture and Organization) melalui Dinas Kelautan dan Perikanan untuk melakukan alih profesi. Mereka yang tadinya menjadi petani ikan, sekarang menjadi peternak lele dan domba.

"Pada awalnya kita mengajukan berbagai item untuk alih profesi, tapi hanya 2 item yang disetujui yaitu pembibitan lele dan pembesaran domba. Untuk lokasinya
bisa di sekitar danau, tapi masih belum ditentukan tempat pastinya," jelasnya.

Awalnya usulan dari para petambak untuk alih profesi disampaikan ke Dinas Perikanan melalui Pengawas Perikanan Kecamatan Ciputat Kabupaten Tangsel, kemudian dirapatkan di FAO pada hari Selasa (31/3/2009). Dan hasilnya disampaikan ke para petambak pada Jumat(3/4/2009) lalu.

Hasil pertemuan tersebut berisikan 3 ketentuan, yang pertama yaitu, hanya 40 penambak yang akan mendapat bantuan, kedua hanya 2 item yang disetujui untuk alih profesi yaitu lele dan domba, ketiga bantuan akan diturunkan setelah proposal selesai dibuat.

Para penambak setuju dengan ketentuan yang ditentukan melalui musyawarah tersebut. Untuk bantuan berupa uang akan dijadikan modal bersama, namun jika berupa barang akan digunakan untuk kepentingan bersama.

"Sekarang ini proposal sedang dibuat," kata Isdarman.

Mereka diharuskan membuat proposal dalam bahasa Inggris, oleh karena itu mereka menggunakan jasa penerjemah.

"Pokoknya yang kita fokuskan sekarang adalah bagaimana menanggulangi anggota kelompok yang mata pencahariannya terputus" pungkas Isdarman. (nvc/mad)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads