"Orang-orang sering meledeknya. Dia merasa rendah karena...ketidakmahirannya dalam berbahasa Inggris. Dia sedih karena hal ini," ujar Kepala Kepolisian Binghamtom, Joseph Zikuski seperti dikutip Reuters, Sabtu (4/4/2009).
Voong yang telah mengantongni izin kepemilikan senjata api sejak akhir 90-an ini baru saja kehilangan pekerajaanya di pabrik Shop Vac yang ditutup November tahun lalu.
Pada Jumat, 3 April, Voong mendatangi gedung The American Civic Association (ACA) yang menjadi pusat pelayanan imigran di Binghamton, New York. Gedung ini merupakan tempat para imigran belajar bahasa Inggris yang menyediakan berbagai layanan bagi orang yang ingin menjadi warga negara AS.
Voong memblokir pintu belakang gedung tersebut dengan mobil. Dia lantas menuju ruang depan dan menembak 2 orang resepsionis yang tengah berjaga. Salah seorang di antaranya tewas, sedangkan yang lain tertembak di perut namun bisa diselamatkan.
Kemudian Voong memasuki ruangan kelas dan menembak secara membabi buta tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Akibatnya 12 orang yang tengah belajar bahasa Inggris menjadi korban dan tewas. Setelah menewaskan 13 orang dan melukai 4 orang, Voong mengakhiri aksi brutalnya dengan membunuh diri.
(sho/sho)











































