Menurut para pakar, insiden-insiden penembakan terakhir kemungkinan dipicu resesi yang tengah melanda negeri itu. Demikian seperti diberitakan News.com.au, Sabtu (4/4/2009).
Pada Minggu, 29 Maret lalu, seorang pria bersenjata menebar teror maut di panti jompo di North Carolina. Akibatnya delapan orang tewas. Pelaku kemudian ditembak oleh polisi dan terluka.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tak lama setelah itu, seorang pria menembak empat polisi di California. Keempat polisi itu tewas.
Kemudian pada Desember 2008 lalu, seorang pria berpakaian Sinterklas menembak membabi-buta di sebuah acara pesta Natal di Covina, California. Akibatnya, 9 orang tewas. Pelaku kemudian menembak dirinya sendiri dan tewas.
Dan terbaru, pada Jumat 3 April kemarin, seorang pria bersenjata menewaskan 13 orang di gedung pusat kewarganegaraan di Binghamton, New York. Para korban sebagian besar adalah imigran yang sedang bersiap mengikuti tes menjadi warga negara AS. Pelaku pun kemudian tewas bunuh diri.
Semua insiden mematikan itu terjadi beberapa hari menjelang peringatan dua tahun pembantaian di kampus Virginia Tech. Pada 16 April 2007, Virginia Tech di Blacksburg, Virginia menjadi lokasi penembakan di sekolah paling mematikan dalam sejarah modern AS. Pelakunya, mahasiswa universitas tersebut, Seung-hui Cho, menembak mati 32 mahasiswa dan dosen di kampus tersebut. Cho pun akhirnya tewas bunuh diri. (ita/ita)











































