Tak cuma itu, amukan air juga telah mengambil nyawa anak, ayah, ibu, dan saudara-saudara mereka. Seperti yang dirasakan Saamin, seorang pengungsi di Fakultas Kedokteran dan Kesehatan Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ).
Saat melihat sekotak nasi yang diberikan pendonor, air mata Saamin menitik. Perempuan 67 tahun itu hanya memandangi kotak makanan berisi nasi, ayam, sayuran, dan buah-buahan itu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dengan lirih, nenek itu kemudian menceritakan kejadian saat tanggul Situ Gintung jebol. Saat itu, dirinya sedang mengambil air wudlu untuk salat Subuh. "Saya dengar suara pohon tumbang di belakang rumah," ceritanya.
Saamin pun langsung membangunkan seluruh keluarganya. Namun rupanya semua telah terlambat, air sudah masuk ke tempat tinggalnya. "Air langsung masuk ke rumah saya," tambahnya.
Sejak itulah, Saamin kehilangan anak dan kedua cucunya. Saamin mengaku sangat merindukan celotehan kedua cucunya itu saat menikmati teh dan pisang goreng.
"Biasanya duduk sama saya kalau makan," ujarnya, memandangi nasi kotak di pangkuannya.
Meski makanan yang dipangkunya cukup mewah, Saamin mengaku sangat rindu sarapan dari dapurnya sendiri. "Saya malah ingin nasi dan ceplok telur dan kecap, ini mengingatkan saya kepada cucu
saya kalau nginap dirumah," menerawang.
Nenek itu juga merindukan rutinitas yang biasa ia kerjakan sehari-hari sewaktu masih
memiliki rumah. "Kembang-kembang yang saya taman dan halaman saya yang punya pohon pisang," katanya.
(fiq/ken)











































