Fadli, Firman, dan Sutardi datang ke Situ Gintung sejak petaka itu terjadi Jumat 27 Maret lalu. Mereka mengumpulkan potongan-potongan besi dari bangunan yang hancur diterjang air bah.
Menurut mereka, besi yang terkumpul lantas dijual ke pengepul di Lebak Bulus, seharga Rp 2.000 per kilo. Hasilnya dibagi tiga. Untuk sehari, setiap anggota kelompok pemulung tersebut memperoleh pendapatan Rp 50 ribu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Di Situ Gintung terdapat puluhan pemulung seperti ketiga pemuda itu. Mereka terlihat mencari rezeki secara berkelompok, tapi ada pula yang perorangan.
Penghasilan yang didapat pun berbeda-beda, tergantung kelengkapan alat yang digunakan. Maksudnya, siapa pemulung yang membawa peralatan lengkap, dia dapat memecah puing bangunan lebih mudah dan banyak.
Nasrullah dan Syafei misalnya. Mereka membawa palu berukuran besar serta gergaji. Sehingga beton sekeras dan sebesar apapun dapat dipecahkan.
"Iya, kalau lagi kayak gini, kita bisa dapat lumayan gede," kata Nasrullah yang mengaku memperoleh Rp 70 ribu per orang per hari.
Mereka memindahkan besi-besi tersebut ke dalam gerobak yang diparkir di belakang STIEAD dengan menggunakan karung. Setelah sore hari tiba, mereka menjual besi-besi tersebut ke pengepul.
"Kalau sudah sore pergi ke pengepulnya," jelas Nasrullah.
Tragedi Situ Gintung memang menjadi ladang baru untuk mencari berkah bagi para pemulung itu. Meski polisi telah melarang, namun mereka tetap menjalankan aktivitas tersebut.
(irw/ken)











































