Kesaksian itu disampaikan salah seorang mahasiswa NTU. Dalam berbagai mailing list, mahasiswa yang menolak disebut namanya itu mengaku saat kejadian, ia sedang berada di laboratorium di lantai B2.
Hingga sebulan kematiannya, keluarga David mencurigai ada yang tidak beres dengan tewasnya mahasiswa yang pernah ikut olimpiade Matematika ini. Hartono Widjaja, ayah David menyatakan pihak Singapura dan NTU sengaja menutup-nutupi kasus yang terjadi 2 Maret silam itu. Menurutnya, berdasarkan bukti-bukti yang didapatkan keluarga, David tidak menusuk Prof Chan Kap Luk seperti diberitakan media Singapura. Bahkan David bukan melompat tapi sengaja didorong agar jatuh.
Mahasiswa tersebut memberi kesaksian berbeda dengan kecurigaan keluarga. Menurutnya David melompat dan tidak ada yang mendorongnya. Teman sekampus David ini berkisah, menjelang pukul 10.30, ia dan teman-temannya sedang bersiap-siap untuk rapat.
"Mendadak teknisi lab kami meminta tolong untuk menghubungi ambulans karena ada orang berlumuran darah di luar lab," ceritanya. Cerita ini juga dipublish di beberapa milis mahasiswa Indonesia yang menuntut ilmu di Singapura.
"Saat kami keluar, seorang laki-laki (David) sudah naik ke pagar lantai B2 dan duduk di atas kanopi jembatan yang menghubungkan B3 dengan kompleks lain (Technoplaza)," lanjutnya.
Melihat itu, katanya, rekan-rekan yang ada di lab memutuskan untuk mengamankan koridor agar tidak ada orang lain mendekat. Sementara itu seorang staf riset yang kebetulan lewat dan seorang teknisi lab berusaha menenangkan orang itu agar mengurungkan niatnya.
"Yang kami lihat saat itu, darah menetes dari badan David selama dia duduk di kanopi tersebut, artinya darah itu dari luka David," katanya.
Dia juga menegaskan, tidak ada orang lain yang mengejar David lalu mendorongnya. "Tidak ada orang lain yang ada di dekat David selama 10 menit dia duduk di kanopi itu selain teknisi lab dan staff riset. "Salah satu terdengar oleh rekan saya, David berkata should I jump?" katanya.
"Saat itu saya sedang berusaha menghubungi sekuriti dan ambulans, ketika staf riset itu masuk ke lab dan berkata, "He jumped" (not ," He fell" but "He jumped")," lanjutnya.
Mahasiswa itu mengatakan, saat melihat kondisi David, dia dan teman-temannya tidak mengetahui ada kejadian 'penusukan' dosen sebelumnya. Hanya setelah ambulans datang dan paramedis bergerak ke arah yang berlawanan dengan tempat badan David, baru kami sadar ada orang lain yang terluka. (ken/iy)











































