Kapolwiltabes Makassar, Kombes Pol Burhanuddin Andi, yang dihubungi detikcom membenarkan peristiwa tersebut. Menurutnya, penyidik KPK gadungan tersebut warga Kendari bernama Abdul Rayoen.
"Kita dapat laporan dari Pak Malkan bahwa ada seseorang yang mengaku penyidik KPK meminta uang kepadanya Rp 25 juta. Kita langsung berkoordinasi dengan KPK dan ternyata tidak ada penyidik KPK bernama Abdul Rayoen, jadi tersangka langsung kita tangkap," ujar Burhanuddin.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Awalnya dia bilang dari komisi, saya pikir dari DPR. Dia bilang bukan, tapi dari KPK. Dia bilang sedang usut masalah di Natuna," ujar Malkan.
Setelah bicara panjang lebar, orang tersebut kemudian mengatakan sejumlah penyidik KPK sedang berada di Makassar. Dia meminta Malkan memberikan 'bantuan' kepada para penyidik KPK tersebut.
"Tolonglah rekan-rekan saya dibantu," kata Malkan menirukan ucapan penyidik KPK gadungan tersebut.
Malkan pun pura-pura menyanggupi permintaan tersebut dan akan memberikan uang Rp 25 juta. Mendengar kesanggupan Malkan, tersangka langsung meminta dana itu ditransfer ke rekening BanK Mandiri Cabang Kendari. Namun dengan alasan ingin mengenal lebih jauh, Malkan meminta bertemu langsung.
Singkat cerita, disepakati pertemuan berlangsung di rumah Malkan hari ini sekitar pukul 12.00 WIB. Dan seseorang pria berusia sekitar 40 tahun yang mengaku sebagai penyidik KPK muncul tepat waktu. Penampilannya cukup rapi. Dia mengenakan kemeja warna ungu tanpa dasi. Hanya wajahnya terlihat seperti orang kurang tidur.
Namun sebelumnya, Malkan sudah berkoordinasi dengan kepolisian setempat. Malkan memerintahkan polisi menangkap orang tersebut setelah menerima uang darinya.
"Saya melalui seorang teman juga sudah berkoordinasi dengan KPK. Disebutkan tidak dibenarkan seorang penyidik KPK menghubungi seseorang terkait apa pun. Jadi kalau pun dia benar penyidik KPK, itu sudah salah. Makanya saya minta polisi tangkap dia," ungkap Malkan.
Di rumah Malkan, tersangka memang tidak berlama-lama. Setelah menerima cek sebesar Rp 20 juta dan uang tunai Rp 5 juta, dia langsung pamit pulang. Tapi polisi yang sudah menunggu di depan rumah Malkan langsung menyergapnya.
"Dia datang naik taksi dengan argo Rp 80 ribu. Sepertinya dia sudah berputar-putar di sekitar rumah saya untuk memastikan keadaan aman. Sebab dari tempatnya menginap di Hotel Kenari ke rumah saya, paling habis Rp 10 ribu," ungkap Malkan.
Menurut Malkan, kasus ini harus menjadi pelajaran semua pihak. Jangan sampai lembaga terhormat seperti KPK disalahgunakan pihak lain.
"Saya juga tidak mau ada korban lainnya. Bayangkan jika mereka yang digertak adalah keluarga dari seseorang yang sedang bermasalah dengan KPK. Jadi pelaku ini pintar, dipikirnya semua anggota DPR takut sama KPK," tandas Malkan.
(mna/djo)










































