Jakarta dan Kota yang Sakit (5-habis)

Jakarta dan Kota yang Sakit (5-habis)

- detikNews
Selasa, 31 Mar 2009 09:18 WIB
Jakarta dan Kota yang Sakit (5-habis)
Jakarta - Warna sungai Chao Phraya River, Bangkok, Thailand tak jauh beda dengan sungai di negara tropis. Warnanya cokelat lumpur dan sedikit keruh.

Tapi tak ada satupun sampah atau bau busuk layaknya sungai-sungai di Jakarta. Padahal, di sepanjang sungai yang membelah The Grand Palace dan Wat Arun ini pun terdapat beberapa pasar tradisional layaknya Pasar Jatinegara, Jakarta Timur.

Pemandangan sungai bebas sampah ini ada di seluruh Thailand. Tak terkecuali di Floating Market yang berjarak 3 jam perjalanan menggunakan bus atau 1 jam dengan taksi dari Bangkok.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sebagai kota metropolitan di negara berkembang pun menghadapi masalah yang sama dalam transportasi. Tapi di negara yang terus bergejolak politiknya ini telah mengantisipasi jauh-jauh hari.

Monorel dan subway dibangun guna mencegah pertumbuhan kendaraan pribadi. Karyawan yang hendak bekerja di Bangkok dari luar Bangkok memarkir kendaraannya di central park.

Kemudian dengan jalan kaki, warga melanjutkan perjalanannya menggunakan subway dari Cathuchak Park atau Mo Chit Station. Alhasil, kemacetan di pusat kota bisa terkendali.

Adapun Jakarta, harapan terhadap BusTransJakarta untuk memecahkan kemacetan telah gagal. Apalagi berharap pada monorel dan subway yang tak kunjung dibangun.

Jika di Jakarta ada bajaj, di Bangkok pun mengenal armada serupa, tuk-tuk namanya. Berbeda dengan bajaj, tuk-tuk lebih ramah lingkungan. Tanpa asap hitam mengepul dan dijadikan salah satu armada wisata.

Dalam pembangunan pusat perbelanjaan pun Bangkok selektif. Di kota tersebut, hanya ada 3 pusat perbelanjaan besar. Salah satunya MBK yang berada di pusat kota. Akses nya pun bisa di capai dengan monorel dengan turun di National Stadium Station.

Bandingkan dengan Jakarta. Sepanjang Sudirman-Thamrin saja membentang Blok M Plasa, Blok M Mal, Pasaraya Blok M, Blok M Square, Ratu Plasa, FX, Pacific Place, SCBD, Grand Indonesia, Plasa Indonesia, EX dan Sarinah Plasa. Belum lagi di Kelapa Gading atau sepanjang Cawang hingga Pluit.

Kehabisan lahan, laut pun diuruk. Dari membangun komplek pertokoan, kota mandiri hingga apartemen yang konon mencapai Rp 3 miliar per unitnya. Bahkan seorang pengembang properti, membanggakan hasil karyanya di tepi pantai utara Jakarta itu layaknya Dubai.

Dalam mengelola pariwisata, Jakarta jauh dari kualitas baik. Lihatlah Bangkok yang mengelola Grand Palace secara profesional. Tak ada sampah, sangat terawat, tak ada pengemis, tak ada guide yang menawar paksa pengunjung atau pedagang asongan.

Beda dengan kawasan Kota Tua Jakarta. Kumuh, bau, tak terawat, bangunan banyak yang hancur serta pedagang asongan berada dimana-mana.

Lalu, siapakah yang sakit? Semoga tak perlu menunggu Situ Gintung jilid dua untuk mengingatkannya.

(asp/nwk)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads