Demikian disampaikan Direktur Pusat Data Departemen Kebudayaan dan PariwisataΒ Harry Waluyo di sela-sela acara UNWTO International Conference on Tourism Statistik di hotel Westin, Nusa Dua, Bali, Senin (30/3/2009).
Berdasarkan data, jumlah tenaga kerja pariwisata baik pekerja langsung dan tidak langsung sebanyak 4,41 juta pada tahun 2007.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Harry menambahkan, kecendrungan PHK ada dengan adanya krisis lebih berdampak pada tenaga kerja langsung karena lebih bergantung pada perusahaan atau hotel. Sedangkan tenaga kerja tak langsung lebih tahan dari dampak krisis global.
Pasalnya, potensi pariwisata Indonesia lebih banyak tergantung dari sektor riil, seperti kerajinan. Tenaga kerja ini memiliki Kemampuan dan jiwa wiraswasta untuk mengembangkan usaha.
"Potensi kita ada di sektor riil walaupun mengalami krisis secara finansial kita tetap hidup karena mereka memang biasa hidup dengan kebutuhan langsung yang ada di masyarakat sehingga bisa cari jalan dengan pengalaman ada sehingga bisa bertahan survive," kata Harry.
Sementara itu, Menteri Kebudayaan Dan Pariwisata Jero Wacik berharap tidak akan ada PHK di dunia pariwisata. Pariwisata tidak anjlok serta pariwisata mampu menjadi mesin penggerak untuk menciptakan lapangan kerja Indonesia.
"Tumbuh tidak besar, asal tidak ada PHK sudah bagus. Kalau turis tetap datang maka tidak berkurang lapangan kerja. Hotel terisi 55-60 persen tetap oke," ujarnya.
Wacik menargetkan mampu meraup 6 juta turis dari potensi 60 juta turis di Asean. Konferensi ini diikuti 92 negara dengan 300 peserta luar negeri serta 200 peserta Indonesia.
(gds/djo)











































