Derita Para Perempuan di Pengungsian

Tragedi Situ Gintung

Derita Para Perempuan di Pengungsian

- detikNews
Senin, 30 Mar 2009 13:02 WIB
Derita Para Perempuan di Pengungsian
Jakarta - Tidak gampang menjadi perempuan saat dalam kondisi darurat. Saat mengalami siklus bulanan menstruasi, setiap perempuan tentunya memakai pembalut. Namun bagaimana dengan para perempuan di pengungsian korban jebolnya tanggul Situ Gintung?

"Ada satu masalah. Saya sekarang lagi dapat (menstruasi). Sampai sekarang belum dapat pembalut. Kata suami saya nanti ada yang dibagikan pembalut tapi sampai sekarang belum dikasih," ujar Intan (38), warga RT 04 RW 08 Kampung Situ Gintung, Tangerang, Banten, Senin (30/3/2009).

Intan sudah 3 malam berada di pengungsian Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ). Kebutuhan berupa sabun mandi, odol gigi, dan makanan memang sudah terpenuhi. Namun masalah timbul saat dirinya mengalami menstruasi.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Untuk sementara saya pinjam punya ibu Indah. Kebetulan bawa pembalut. Saya minta tapi kan nggak selamanya saya minta-minta terus. Bisa sih beli keluar, cuma terus terang saya nggak pegang uang cash. Dompet saya hanyut," curhatnya.

Tak hanya pembalut, air di pengungsian juga masih susah. "Kalau laki-laki kan bisa buang air begitu saja. Kalau perempuan kan mesti banyak airnya," keluhnya.

Tak hanya Intan, Indah (28) juga mengalami hal yang sama. Indah kewalahan mencari pembalut saat tiba-tiba mengalami menstruasi.

Sementara itu, pantauan detikcom di STIE KH Ahmad Dahlan, ratusan pembalut justru masih menumpuk. Menurut salah satu staf logistik, Sofyan, pembalut-pembalut tersebut baru tiba. Pengiriman bantuan lebih difokuskan kepada kebutuhan primer.

"Ini baru datang dan kita fokus ke kebutuhan dasar seperti makanan, sabun mandi, odol, dan air mineral. Kalau masalah air kan memang kita belum nyala pompanya," jelasnya.

(gus/iy)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads