Jakarta dan Kota yang Sakit (2)

Jakarta dan Kota yang Sakit (2)

- detikNews
Senin, 30 Mar 2009 12:10 WIB
Jakarta dan Kota yang Sakit (2)
Jakarta - Selain menentang alam, Jakarta menentang siklus manusia. Dengan semakin tingginya mobilitas warga ibukota, Pemprov DKI Jakarta seharusnya jauh-jauh hari menyediakan fasilitas transportasi massal, bukan membangun tol dan penunjang sektor transportasi pribadi.

"Ngapain juga naik TransJakarta, sudah busnya nggak terawat, juga penumpang bergelantungan. Ya mending naik mobil saja," kata Lina (32), seorang karyawan kantor di Segi Tiga Emas Kuningan kepada detikcom, Senin, (30/3/2009).

Lantas dibangunlah BusTransJ oleh Pemprov DKI sebagai solusi. Apa lacur, sarana ini akhirnya hanya menjadi alat moda transportasi baru layaknya bus patas AC. Alat ini pun tidak mengalihkan pengguna kendaraan roda empat.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Lebih baik macet-macetan daripada bergelantungan di BusTransJ," kata pengendara Honda Jazz, Amelia (29), karyawan yang berkantor di bilangan Thamrin, Jakarta Pusat.

Hal serupa juga dirasakan oleh sopir Mikrolet M 01 jurusan Kampung Melayu-Senen, Bowo (29).

Pasca pengoperasian BusTransJ Kampung Melayu-Ancol, warga Cipinang Baru ini mengaku sepi penumpang.

"Tapi macet tetap. Katanya, BusTransJ buat ngilangin macet. Nyatanya malah nambah saingan doang," kilah sopir asal Wonogiri ini.

Anehnya, Pemprov DKI Jakarta menyalahkan siswa sekolah sebagai biang kerok kemacetan. Akhirnya, awal tahun ini, siswa SD hingga SLTA di wajibkan masuk sekolah pukul 06.30 WIB.

"Ini mengganggu tumbuh kembang anak," kata Ketua Komnas Anak, Kak Seto beberapa waktu lalu.

Meski demikian, pengamat Transportasi, Dharmaningtyas justru bangga dengan keberhasilan BusTransJ. Dalam setahun, BusTransJ di 7 koridor mengangkut lebih dari 75 juta penumpang.

"Kalau tak ada BusTransJ, dengan apa ke 75 juta orang tersebut bertransportasi ?," ujarnya saat evaluasi BusTransJ Koridor VIII di kantor BLU, Jalan Trunojoyo, beberapa pekan lalu.

(asp/aan)


Berita Terkait