"Mas, kami tinggal menunggu waktu saja," kata laki-laki asal Indramayu kepada detikcom, Senin, (30/3/2009).
Kekhawatiran Wahyu yang bekerja sebagai nelayan bukannya tanpa alasan. Sebagai kota yang berada di bawah laut, ancaman tenggelamnya kawasan utara Jakarta sangatlah beralasan. Lebih-lebih, hutan bakau kini nyaris hilang dan berganti menjadi hutan apartemen dan perumahan mewah.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pembangunan yang menentang hukum alam pun terlihat di kawasan Jakarta Barat. Sepanjang Slipi hingga Grogol kini terbentang tower perkantoran, apartemen hingga mal dan hotel. Alhasil banjir selalu menggenang dan melumpuhkan akses jalan.
Rawa di sebelah utara Jakarta pun kini telah disulap menjadi ribuan
bangunan. Di bekas rawa ini, lalu dibangunlah Kelurahan Kelapa Gading Barat dan Kelapa Gading Timur sehingga kawasan bisnis dan hunian elit ini selalu terendam banjir apabila musim penghujan.
Pengalihan fungsi rawa menjadi hunian juga dilakukan di sepanjang Kuningan. Bermodal miliaran rupiah, puluhan apartemen dan tower perkantoran kini berdiri kokoh. Dan karena menentang alam, lagi-lagi kawasan ini harus tenggelam apabila hujan deras melanda.
Di selatan Jakarta, ngarai sungai Krukut kini telah berubah total. Tak kita jumpai kicauan burung seperti era tahun 80-an. Kini tinggal dentuman musik dari puluhan kafe dari kawasan Kemang ini. Bahkan, beberapa tower apartemen telah dibangun persis di lembah sungai.
Selaras dengan pembangun yang tak memperhatikan garis alam, di Gandaria pun telah terpancang pasak bumi. Tak lama lagi puluhan tower apartemen siap menjulang dalam satu kawasan.
Hal serupa juga dilakukan di Kebagusan, Permata Hijau, Casablanca atau Senayan.
"Jadi, jangan salahkan warga bantaran sungai apabila banjir datang. Penyumbang banjir terbesar adalah menyempitnya lahan hijau dengan
dialihfungsikan menjadi Tower dan Apartemen," kata seorang penggiat
lingkungan hidup, Ahmad Daroyani, beberapa pekan lalu.
(asp/aan)











































