"Tesya dan saya kesetrum waktu banjir datang. Tesya saya gendong sih mas," ujar ayah Tesya, Riagung saat ditemui di Posko Pengungsian di Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ), Situ Gintung, Minggu (29/3/2009).
Saat itu, Jumat 27 Maret pukul 04.30 WIB, warga di sekitar rumah dia sudah ramai berteriak. "Banjir, banjir...Air naik, air naik," ucapnya menirukan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Saat saya gendong Tesya dana berjalan, saya menginjak stop kontak. Kami berdua tersetrum. Refleks Tesya saya lempar, dan sempat jatuh ke air. Untung saya segera sadar dan saya ambil lagi dia," terangnya mengenang peristiwa memilukan itu.
Meski terlihat sehat, di pelipis kiri Tesya masih terlihat goresan bekas luka. Namun, kebingungan masih melanda Riagung. Adiknya Wati, kini keberadaannya entah di mana, alias hilang. Saat air bah datang, dia hanya sempat menyelamatkan istri dan anaknya, sedang Wati saat itu berada di kamar terpisah.
"Ya gimana lagi mas wong sudah nasib," ujar Riagung saat ditanya seputar adiknya.
Sementara itu, terkait kondisi pengungsi di FK UMJ hingga kini masih ditangani dokter dan mahasiswa.
"Jumlah 25 Kepala Keluarga. Sampai saat ini masih bisa ditangani baik logistik maupun obat-obatan," ujar mahasiswa kedokteran Suyetno saat ditemui di lokasi.
(ndr/iy)











































