Jumat 27 Maret 2009 kemarin, Syahirman dan adik kandungnya Anshar Nashir sedang menatap cemas dari kediaman mereka di Pratama Hill, Lebak Bulus, Jakarta Selatan.
Air yang mengalir ke rumah mereka pun semakin lama semakin tinggi. Sementara 2 dari 3 mobil mereka pun masih terparkir di pinggir jalan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Syahirman mencari tempat yang lebih tinggi," ujar Anshar di RS Fatmawati, Jl RS Fatmawati, Jakarta Selatan, Sabtu (28/3/2009).
Anshar pun menjelaskan bahwa air sempat mencapai ketinggian 2 meter di luar rumah dan 1 meter di dalam rumah. Setelah hujan reda, keluarga heran karena Syahirman tak kunjung kembali. Keluarga lantas berkoordinasi dengan Tim SAR pada Jumat malam.
Sementara menurut kakak ipar Syahirman, Nurhasnah, Tim SAR sebetulnya sudah menemukan 3 mobil di bawah Jembatan Cireundeu. Namun setelah mengevakuasi 2 mobil, Tim SAR menghentikan pencarian menjelang magrib karena cuaca yang kurang mendukung.
"Sulit diangkat kali ya, jadi baru sekarang, baru diangkat," kata Nurhasnah di tempat yang sama.
Saat ini, tubuh Syahirman sudah terbaring kaku di RS Fatmawati setelah dievakuasi Tim SAR. Jasadnya pun dimandikan kedua anaknya yaitu Indra (29) dan Fajri (26). Sementara putri bungsunya Ninda (23) histeris saat tiba di kamar jenazah.
"Ninda pengen lihat papa! Ninda pengen lihat papa!" teriak Ninda.
Sekitar pukul 15.00 WIB jasad pensiunan PT Jasindo itu sudah dibawa kerabat dan langsung dimakamkan di TPU Tanah Kusir, Jakarta Selatan.
(nwk/gah)










































