Ritual ini wajib diikuti oleh para muda-mudi Banjar Kaja, Sesetan, Denpasar yang digelar di jalan raya, Sesetan, Jumat (27/3/2009).
Sekitar 200 muda-mudi warga banjar ini turut serta dalam ritual yang telah berlangsung ratusan tahun. Sebelum omed-medan, para peserta bersembahyang di areal Balai Banjar memohon ritual ini berjalan lancar.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Saya pernah menonton tapi tetap ingin menyaksikannya karena ini unik," ujar Stephanie, wisatawan Australia.
Ritual ini digelar dengan aturan, perserta pria berbaris di hadapan kelompok wanita. Begitu aba-aba dimulai, kedua kelompok ini merangsek ke depan.
Mereka pun terlibat adegan tarik-menarik. Tak lama kemudian, wakil terdepan dari kedua kelompok ini berciuman ditengah sorak-sorai penonton.
Adegan memagut bibir ini berkesudahan setelah mereka disiram air oleh panitia. Adegan tersebut berlangsung berulangkali hingga semua peserta mendapatkan bagian.
"Tadinya malu, tapi sekarang senang," ujar Ketut Wianti.
Omed-omedan pun menjadi ajang mencari jodoh para pemuda desa. Banyak pasangan di banjar ini yang menikah setelah terlibat omed-omedan. Ketua Panitia omed-omedan Gede Anindya Perdana Putra mengatakan ritual ini telah berlangsung turun temurun selama ratusan tahun.
Adengan ciuman pada ritual ini sebagai simbol menjalin keakraban dan silaturahmi.
(gds/nwk)










































