"Ini seperti setengah tsunami saja," jelas Minu, putri sulung Ketua Komnas PA Seto Mulyadi saat dihubungi melalui telepon, Jumat (27/3/2009).
Saat itu, sekitar pukul 05.00 WIB, dia dan keluarganya masih lelap dalam tidur. Tiba-tiba terdengar kegaduhan dan teriakan warga.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tidak lama, dia pun bergegas turun ke lantai 1. Dilihatnya air sudah mulai masuk. "Di pintu terdengar suara menggedor-gedor, saya pikir ada siapa, ternyata itu air," jelasnya.
Memang air datang dengan derasnya. Bahkan, seorang tetangganya di Kompleks Cireundeu Permai hampir menjadi korban.
"Jadi saat air datang dengan deras, dia langsung lari ke garasi dan mencoba menyelamatkan mobilnya, saat itu air sudah menggenang, tetapi mesin tidak menyala, hingga tiba-tiba air sudah meninggi. Dia keluar mobil dengan memecahkan kaca depan mobilnya," urai Minu.
Saat peristiwa terjadi, dia langsung membangunkan adik-adiknya dan para pekerja di rumahnya, mereka segera naik ke lantai dua, karena lantai 1 sudah terendam. Hingga sekitar pukul 07.00 WIB, petugas penyelamat datang.
"Ini membuat panik semua warga. Untungnya tidak lama datang petugas SAR dan satpam kompleks, kami diangkut menggunakan perahu karet ke tempat yang aman," terangnya.
Memang, lokasi di kawasan ini biasa banjir bila musin hujan besar tiba. Misalnya saja seperti tahun 2002 lalu. "Ini kejadian luar biasa," tutupnya.
(ndr/gah)











































