Vicki Saporta, Presiden Federasi Aborsi Nasional menyatakan, organisasinya menerima banyak telepon dari kaum wanita yang ingin melakukan aborsi. Namun karena kesulitan keuangan, rencana aborsi pun terpaksa diundur karena harus mengumpulkan uang untuk membayarnya. Padahal penundaan aborsi justru berisiko dan membutuhkan biaya yang lebih tinggi. Bahkan harganya bisa dua kali lipat jika kehamilan telah memasuki trimester kedua.
Menurut Jenifer Vick dari organisasi Keluarga Berencana East Central Iowa, ada lonjakan dalam jumlah wanita yang butuh bantuan untuk membayar alat kontrasepsi. Ini dikarenakan suami mereka telah kehilangan pekerjaan dan asuransi kesehatan mereka.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kepada Gupta, wanita itu mengatakan kalau pasangannya baru saja di-PHK. Karena kesulitan ekonomi, dia ingin menggugurkan anak keempat yang tengah dikandungnya.
"Itu kehamilan yang diharapkan namun mereka mengevaluasi kembali pengeluaran-pengeluaran dan memutuskan untuk tidak melanjutkan (kehamilan)," kata Gupta seperti dilansir Straits Times, Rabu (25/3/2009).
"Ketika saya sedang memberikan opsi-opsi, dia menginterupsi saya sembari menangis dan mengatakan: Dr Gupta, saya jalan kaki ke sini selama sejam. Saya yakin dengan keputusan saya," tutur Gupta menceritakan pasiennya.
Dokter-dokter lain memiliki cerita serupa. Sejumlah dokter dan klinik melaporkan banyak wanita memilih aborsi dan kaum pia melakukan vasektomi karena mereka tak sanggup lagi membesarkan seorang anak.
Klinik-klinik Keluarga Berencana di Illinois melakukan aborsi tertinggi pada Januari lalu. Sebagian besar dimotivasi oleh kekhawatiran kaum wanita akan kondisi ekonomi keluarga.
(ita/iy)











































