"Seharusnya pasien-pasien yang kurang mampu ditawarkan. Karena (Stent) ini memang gratis untuk mereka," ujar Siti Fadillah usai acara Revitalisasi Pelayanan Program Bantuan Balloon Stent Bagi Peserta Jamkesma, di RS Jantung Harapan Kita, Slipi, Jakarta Barat, Senin (23/3/2009).
Karena itu, Menkes menegur pihak rumah sakit yang selama ini dibantu, namun sedikit yangΒ memanfaatkannya. Ada 14 RS penerima bantuan yait, RS Jantung dan Pembuluh Darah Harapan Kita, RSCM, RSUP Fatmawati, RS Hasan Sadikin (Bandung), RS Adam Malik (Medan), RS Dr Soetomo (Surabaya), RS Dr Kariadi (Semarang), RS Sardjito (Yogyakarta), RS Sanglah (Denpasar), RS Wahidin Sudirohusodo (Makassar), RS Dr M Djamil (Padang),Β RS Dr Moh. Hoesin (Palembang), RSUD Arifin Ahmad (Pekanbaru), dan RSU H.A Wahab Sjahranie (Samarinda).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Siti menjelaskan, program ini bertujuan agar pasien menengah ke bawah bisa mendapatkan balloning dan stenting secara gratis. Hal ini karena harga untuk proses tersebut sangat mahal di pasaran.
"Filosofinya, program ini ada karena harga Stent di pasaran (Indonesia) lebih mahal dibanding Malaysia dan negara tetangga. Terlebih jenis Stent di Indonesia lebih banyak sehingga makin mahal," jelasnya.
Bagi seorang penderita penyakit jantung koroner, Stenting sangat diperlukan untuk memperlancar pembuluh darah yang tersumbat. Untuk satu pemasangan Stent biasanya membutuhkan kocek hingga puluhan juta rupiah.
"Hal ini akan saya tertibkan. Liat saja, kalau saya sudah (ngomong) begini biasanya sudah bisa jalan," tandasnya.
(ape/nrl)











































