Malam Minggu 28 Maret, Jakarta Gelap-gelapan

Malam Minggu 28 Maret, Jakarta Gelap-gelapan

- detikNews
Kamis, 19 Mar 2009 14:28 WIB
Malam Minggu 28 Maret, Jakarta Gelap-gelapan
Jakarta - Lampu-lampu di gedung dan jalan protokol di Jakarta akan mati 28 Maret 2009 mulai pukul 20.30 WIB hingga 21.30 WIB. Ibukota akan gelap gulita.

Aksi mematikan lampu merupakan gerakan Earth Hour yang diperingati di seluruh dunia. Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo didapuk menjadi duta Earth Hour.

"Hari ini Jakarta dapat kehormatan, gubernur diusulkan menjadi duta Earth Hour yang insya Allah akan dilakukan di seluruh dunia pada 28 Maret 2009 pukul 20.30 WIB-21.30 WIB," kata Fauzi Bowo.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Hal itu disampaikan dia dalam jumpa pers di Gedung Balikota, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Kamis (19/3/2009).

Dengan mematikan lampu 1 jam di Jakarta, menurut dia, penghematan energi yang bisa didapatkan dapat untuk menerangi 900 desa dan hal ini merupakan tantangan untuk ibukota.

Pria yang akrab disapa Foke ini meminta dukungan masyarakat untuk kampanye yang mendukung gerakan penghematan listrik untuk perubahan iklim global.

"Kita akan coba pada tanggal 28 mematikan penerangan dimulai di Monas dan sekitarnya sampai dengan Jalan Jenderal Sudirman. Tetapi ini masih dalam pembahasan lebih lanjut," ujar pria berkumis ini.

Di kawasan Monas, lanjut dia, Balaikota akan dipadamkan. Kemudian, seluruh penerangan jalan di Jalan Thamrin dan Sudirman juga akan dipadamkan.

Foke mengaku sudah mengantongi komitmen beberapa perusahaan yang bersedia bergabung dalam program ini.

"Seperti Sari Pan Pacific, Sampoerna Strategic Square, Depertemen ESDM di pojokan Thamrin dan BI sudah menyatakan mensupport kegiatan ini. Begitu juga instansi lainnya," beber Foke.

Dikatakan dia, Pemprov DKI Jakarta bekerjasama dengan Polda Metro Jaya untuk kelancaran acara itu.

Foke didaulat oleh WWF untuk menjadi duta Earth hour 2009. Selain dia ada Raja Swedia, Presiden Finlandia, Walikota London, dan PM Malaysia.

Wakil WWF Indonesia Rizal Malik menambahkan pemadaman listrik ini  cara untuk berpartisipasi masyarakat dan swasta karena lebih dari 20 persen konsumsi listrik di Indonesia ada di Jakarta.

"Sebagian besar 34 persen dari konsumsi itu adalah rumah tangga. Dari 34 persen itu, 19 persennya untuk konsumsi. Jadi bukan untuk hal-hal yang produktif. Kalau kita matikan 1 jam, Jakarta tidak akan berhenti," kata Rizal.

(aan/iy)


Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini