Hal itu diungkapkan pakar hubungan internasional Universitas Gadjah Mada (UGM), Prof Dr Mochtar Mas'oed dalam acara 'Konvensi Perdana Studi Eropa di Indonesia' di gedung Pascasarjana Universitas Gadjah Mada (UGM), Jl Teknika Utara, Yogyakarta, Senin (16/3/2009).
"Yang paling berhasil di bidang ekonomi, di bidang lain tidak. Sedang yang paling kurang berhasil di antaranya soal defense atau pertahanan," ungkap Mochtar.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Didorong terus tapi tidak bisa jalan. Ini akibatn kesulitan institusional, ada badget kecil tapi ngomong terus padahal sementara ini dunia perlu Uni Eropa lebih aktif berperan," katanya.
Dia mengatakan gerakan menyatukan Eropa itu lebih banyak diilhami oleh Emanuel Kant yakni kegiatan bersifat ekonomis itu jauh lebih penting dibanding yang lain. Dengan demikian tak mengherankan bila yang berhasil di sisi ekonomi.
Menurut guru besar Fisipol UGM itu, Uni Eropa banyak mengalami kesulitan ketika harus mengambil keputusan cepat atau mengambil tindakan di luar Uni Eropa. Dalam beberapa kasus menunjukkan, mereka sangat terkendala ketika harus mengambil sikap yang berkaitan dengan negara di luar Eropa.
"Dalam menanggapi kasus Irak misalnya atau konflik di berbagai dunia lainnya, mereka lambat sekali. Karena komandannya banyak sehingga sering menbuat negara lain seperti As jengkel," katanya.
Di sisi lain lanjut Muchtar, Uni Eropa juga mengalami kesulitan secara institusi. Sebagian besar perhatian Uni Eropa masih dalam wilayah sendiri. Budget untuk eksternal affairs juga kecil sekitar 4,4 persen.
"Inistiatif internasionalnya juga lambat. Kalau melihat seperti itu, kita belum bisa berharap," pungkas dia. (bgs/djo)











































