Eko misalnya. Kini dirinya memilih naik bajaj daripada busway. Alasannya, meski berisik, bajaj gampang didapat dan tidak berdesak-desakan.
"Tuh, naik busway desak-desakan, enakan naik bajaj kan. Suaranya gruduk-gruduk, seru kan," kata Eko kepada anaknya Chika. Padahal awalnya Chika mengajak sang ayah untuk naik busway lewat halte Senen, Senin (16/3/2009).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Eko juga mengkritik fasilitas busway yang tidak berfungi. Atap halte yang bocor, juga tangga halte yang bolong-bolong, menunjukkan ketidakmampuan pengelola bus TransJakarta dalam mengelola angkutan umum massal itu.
"Banyak atap yang bocor, terus tangganya bolong-bolong. Terus TV juga, mana, nggak pernah dinyalain lagi. Dulu saja promosi, dibagus-bagusin," keluhnya. (mei/ken)











































