Nakhoda: Tidak Ada Peringatan dari Agen, BMKG, dan Syahbandar

Musibah KM Teratai

Nakhoda: Tidak Ada Peringatan dari Agen, BMKG, dan Syahbandar

- detikNews
Senin, 16 Mar 2009 11:59 WIB
Nakhoda: Tidak Ada Peringatan dari Agen, BMKG, dan Syahbandar
Jakarta - Persidangan terkait musibah kapal KM Teratai Prima digelar di Mahkamah Pelayaran. Sang nakhoda, Sabir, mengaku tidak mendapatkan peringatan dari pihak syahbandar, Badan Metereologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), dan pihak agen.

"Tidak ada, Kap," ujar Sabir menjawab pertanyaan hakim anggota Kapten Sonny M Ikhsan di Mahkamah Pelayaran, Jl Boulevard Timur, Kelapa Gading, Jakarta Timur, Senin (16/3/2009).

Sebelumnya Sonny mempertanyakan apakah sebelumnya ada peringatan dari pihak-pihak seperti disebutkan di atas, sebelum kapal melakukan perjalanan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Biasanya ada tapi hari itu tidak ada," lanjut Sabir.

"Kalau bisanya yang memberi peringatan siapa?" tanya Sonny.
"Dari agen, Kap," jawab Sabir.

Agenda sidang kali ini yakni pemeriksaan terdakwa, sebelumnya sidang digelar di Mahkamah Pelayaran di Pare-pare, Sulawesi Selatan, namun kemudian dipindahkan ke Jakarta.

"Saat gelombang menghantam kapal, ada upaya tidak untuk berlindung ke pulau terdekat?" tanya Sonny lagi.

"Tidak bisa Kap, karena gelombang muncul tiba-tiba dan mengantam kapal. Lalu kapal tenggelam, dan buritan lebih dulu," urai Sabir.

Sedang hakim anggota yang lain Kapten Zulretmira juga mempertanyakan detik-detik saat terjadi kecelakaan. Dia meminta penjelasan apakah saat ombak datang kecepatan kapal sedang naik, half, atau berhenti.

"Saat gelombang datang tadinya kecepatan half lalu setelah berada di tengah-tengah gelombang mesin saya stopkan," jawab Sabir.

Zulretmira kemudian menceramahi Sabir. Seharusnya saat gelombang datang mesin tidak boleh stop. "Enggak bisa harusnya, kalau stop tambah dihantam," tegasnya.

KM Teratai tenggelam pada Januari 2009 lalu, saat dalam perjalanan dari Pare-pare, Sulsel, menuju Samarinda, Kalimantan Timur. Kapal tenggelam di perairan Majene. Dari 250-an penumpang dan 17 anak buah kapal, menurut Administratur Pelabuhan (Adpel) Parepare, baru 20 orang yang berhasil ditemukan oleh nelayan setempat, dan lainnya masih dalam pencarian. (ndr/nrl)


Berita Terkait