"Jadi, silakan Sintong-Sintong lain menulis buku, tidak tidak ada yang melarang, silakan. Semua itu untuk khazanah perbendaharaan masing-masing," kata Ketua Umum Pengurus Pusat PPAD, Letjen (Purn) Soerjadi dalam jumpa persnya di kantornya Jl Matraman Jaya, Jakarta Timur, Jumat (13/3/2009).
Menurut mantan Wakil Kepala Staf Angkatan Darat (Wakasad) ini, bila buku mantan Danjen Kopassus Letjen (Purn) Sintong Panjaitan 'Perjalanan Seorang Prajurit Para Komando' kini menuai konflik dan komentar di antara sesama purnawirawan AD merupakan tanggungjawab yang bersangkutan, bukan PPAD. "PPAD tidak pernah berbicara tentang hal itu, karena kita lebih fokus untuk menatap masa depan yang sulit agar lebih baik," jelasnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ketika ditanya apakah buku tersebut bisa menjadi fakta sejarah baru dan bisa dipercaya, Soerjadi menjelaskan bahwa sejarah itu sangat subyektif. "Sejarah itu subyektif tergantung siapa yang menulis itulah. Saya juga bisa nulis buku sejarah, ya paling dimaki-maki sehari dua hari atau seminggu, setelah itu
dibuang bukunya," ujarnya.
Soerjadi menyatakan buku Sintong Panjaitan tidak akan mempengaruhi parpol yang mengusung Prabowo sebagai capres, walau masyarakat tidak akan lupa sehari dua hari ini. "Nggak ada yang akan terpengaruh, negara begini besar hanya buku saja orang, kok heboh," tandasnya.
Soerjadi enggan menjawab ketika ditanya apakah peluncuran buku tersebut bisa dikatakan sebagai bentuk kampanye hitam (black campaign). "Saya tidak mau mengomentari itu. Kita jelas, marilah menatap ke depan. PPAD tidak pernah menyesali, tapi marilah kita perbaiki saja ke depan. Kalau ada individu melihat
ke belakang itu sebagai pelajaran saja dan bukan melumuri muka sendiri," pungkasnya. (zal/mad)











































