Seorang lelaki tua berkumis lebat yang telah memutih memegang kekar spanduk warna merah. Spanduk itu bertuliskan "Dalang Pengacauan di Aceh (NAD) Mafia Ganja". Tak sedikit pengendara yang memelankan kendaraannya hanya untuk mengetahui aksi lelaki berbaju batik itu.
Wajah lelaki yang mengaku berkali-kali masuk penjara gara-gara aksinya sejak Orde Lama ini menunjukan kegundahan bangsa. Seorang diri, tak pernah lelah melakukan demo lebih dari 50 kali sejak 2004.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hanya berteman banner merah dan beberapa lembar selebaran aksi, lelaki yang tinggal di Bogor tak lelah mengulang aksinya. Tiap demo selalu berganti tema sesuai kegundahan hatinya.
"Saya dari dulu berjuang sendiri. Pahit getir ditanggung sendiri. Saya gak mau bergabung dengan organisasi, banyak pelacur dalam organisasi," tambah laki-laki yang tak mau mempunyai HP karena takut dilacak intelijen ini.
Prestasi demo lebih dari 50 kali menorehkan beragam pengalaman. "Pernah saya mau diusir ketika demo di depan Kedubes Amerika , namun saya katakan, di depan saya ini masih Tanah Air saya, memangnya Indonesia bagian dari negara Amerika?" ujarnya dengan nada patriotik.
Anton mengaku kenal dengan beberapa orang top di Indonesia, termasuk Eros Djarot. Eros menjulukinya sebagai Anton Triple Agent. "Titip salam pada Eros, bilang dari Anton Triple Agent," ujarnya.
Walau sering demonstrasi, ayah 7 anak ini tetap menghidupi keluarga. Bahkan anak tertuanya, Indiana, telah kelar S3 Politik UI.
"Sehari-hari saya usaha tani ikan dan udang," kisahnya menutup pembicaraan. (nrl/nrl)











































