"Kalau buku itu benar membicarakan tentang Prabowo, sedikit banyak akan berpengaruh pada suara prabowo di pemilu/pilpres nanti," ujar pengamat politik dan militer dari LIPI Jaleswari Pramodhawardani kepada detikcom, Kamis (12/3/2009).
Menurut Jaleswari, budaya bangsa indonesia adalah budaya yang gampang lupa. Jika Prabowo memang benar ingin 'mengambil' para perwira ABRI saat itu, maka harusnya kans Prabowo untuk menjadi jadi presiden menjadi sangat kecil.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lebih lanjutnya, Jaleswari menjelaskan terbitnya buku Sintong Panjaitan yang berdekatan dengan Pemilu Legislatif 2009 mempunyai makna ganda bagi Prabowo dan masyarakat.
"Harus juga dicek, apakah Pak Sintong berafiliasi dengan parpol tertentu atau tidak? Dan buat publik, ini adalah masukan yang berharga tentang informasi capres, sehingga masyarakat punya pengetahuan tentang capres yang akan dipilihnya nanti," jelasnya.
Dalam bukunya 'Perjalanan Seorang Prajurit Para Komando', Sintong menjelaskan isu kup 1983 sebagai awal keretakan hubungan Asisten Intelijen Hankam Letjen TNI LB Moerdani dan Wakil Komandan Den 81/Antiteror Kapten Prabowo Subianto. Saat itu Prabowo menengarai Moerdani akan melakukan kudeta dan Prabowo akan menggagalkannya.
Cara counter coup d'etat itu adalah Prabowo berencana 'mengambil' sejumlah nama perwira tinggi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI). Menurut Sintong, di antara nama-nama perwira tinggi ABRI yang akan diambil Prabowo adalah Letjen TNI LB Moerdani, Letjen TNI Soedharmono, Marsda TNI Ginandjar Kartasasmita, dan Letjen TNI Moerdiono.
(fiq/lrn)










































