"Pada waktu Prabowo masuk, para petugas agak tegang," tutur Letjen (Purn) Sintong Panjaitan dalam bukunya 'Perjalanan Seorang Prajurit Para Komando' yang dia luncurkan di Balai Sudirman, Jl Sahardjo, Jakarta, Rabu (11/3/2009) malam.
Saat itu 22 Mei 1998, sehari setelah Soeharto mengundurkan diri. Habibie mengeluarkan keputusan mencopot Prabowo dari jabatannya. Hal itulah yang membuat Prabowo buru-buru ke Istana.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun Sintong, yang saat itu menjabat sebagai penasihat bidang pertahanan dan keamanan (Hankam) Presiden Habibie, mendapat laporan dari ajudan bahwa Prabowo langsung naik lift menuju lantai 4 tanpa ada seorang pun petugas yang mencegahnya.
"Selain itu sangatlah janggal, kalau dalam situasi semacam ini BJ Habibie sebagai presiden berhadapan dengan Prabowo yang bersenjata lengkap," jelas Sintong.
Memang saat itu Prabowo cukup dikenal banyak perwira pasukan pengamanan presiden, sehingga banyak yang sungkan terhadap Prabowo.
Melihat kondisi tersebut, Sintong pun memberi perintah agar Prabowo jangan masuk dahulu ke kantor presiden, sebelum diberi izin. Sintong teringat berita tetntang tewasnya Presiden Korea Selatan Park Chung-hee (menjabat tahun 1963-1979) karena ditembak dari jarak dekat oleh Jenderal Kim Jae-gyu dengan pistol Walther PPK, dalam satu pertemuan di Istana Kepresidenan Korsel.
Sintong lantas meminta agar seorang pengawal presiden mengambil senjata dari Prabowo dengan cara yang sopan dan hormat dan agar Prabowo tidak direndahkan.
"Lihat ke sana kau kenal Prabowo. Kau ambil senjata Prabowo dengan cara yang sopan dan hormat," perintah Sintong kepada seorang anggota pasukan pengawal kepresidenan.
Selain itu, Sintong juga telah menyiagakan anggota berpakaian preman bersenjata lengkap di lantai 4. "Untuk menurunkan Prabowo dengan paksa ke lantai dasar, seandainya ia menolak menyerahkan senjatanya," jelas Sintong.
Petugas berpakaian preman yang ditugaskan mengambil senjata dari Prabowo itu pun lantas Prabowo dan terlibat pembicaraan singkat.
"Prabowo membuka kopelrim yang tertambat pistol, magasen, peluru, dan sebilah pisau rimba khas Kostrad," tutur Sintong.
Melihat kejadian itu, Sintong merasa bersyukur di dalam hati. "Aduh terimakasih Prabowo, begitulah seharusnya tentara bersikap. Menaati peraturan," jelas Sintong.
Akhirnya Prabowo bertemu Habibie empat mata. Hingga setelah beberapa jam kemudian Sintong mengingatkan Prabowo untuk mengakhiri pertemuan.
Soal pergantian jabatan Prabowo itu Sintong menulis hal itu sepenuhnya kewenangan Habibie dan dia tidak ikut terlibat dalam prosesnya.
Sintong juga menyebut, Habibie sempat khawatir terjadi sesatu akibat pergantian itu, namun Sintong meyakinkan bila semuanya akan berjalan normal. (ndr/nrl)











































