"Itu tidak sesederhana yang kita bayangkan. Ada alat yang bagus, tapi saat digunakan di lapangan space atau ruangannya tidak ada," kata Kepala Humas Lion Air Edward Sirait di Bandara Soekarno-Hatta, Cengkareng, Tanggerang, Selasa (10/3/2009).
Dicontohkan Edward, petugas yang mengevakuasi bahkan sempat kesulitan untuk menggunakan dongkrak karena kondisi tanah yang turun. Selain itu, tidak adanya space atau ruang untuk memasukkan peralatan ke dalam bagian sayap pesawat membuat proses evakuasi semakin memakan waktu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hingga kini, menurut Edward, belum ada pembicaraan bersama antara Lion Air dengan operator bandara.
"Tapi sepengetahuan saya, kejadian ini harus ditanggung bersama. Misalnya kalau banjir, saya tidak mungkin menutup bandara jika runway-nya tergenang air atau radar tiba-tiba mati," tambahnya.
Mengenai detail penyebab kecelakaan dan sanksi yang dikenakan terhadap penanggung jawab dalam penerbangan tersebut, Edward mengaku, pihaknya akan menyerahkan hal tersebut ke Komisi Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT).
"Apa yang sebenarnya terjadi di kokpit, nanti KNKT akan menyelidiki hal itu. Jadi kita serahkan ke KNKT,' tandasnya.
Terhempasnya pesawat Lion Air sempat mengacaukan sistem operasi di Bandara Soekarno-Hatta. Kekacauan sistem terjadi pada pukul 20.00 WIB sampai pukul 22.00 WIB.
(nov/iy)











































