"Korban menderita DBD,'' kata Kepala Divisi Humas dan Pemasaran RS Islam Samarinda, Isnaniah, ketika memberikan keterangan kepada wartawan di kantornya Jl Gurami, Samarinda, Kalimantan Timur, Selasa (10/03/2009).
Isnaniah menjelaskan, saat masuk RS Islam Samarinda, Kamis (05/03/2009) lalu, panas tubuh Danuarta tinggi. Dua hari kemudian, trombosit Danuarta turun menjadi 120 ribu dari normal 265 ribu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Diterangkannya pula, DBD yang diderita Danuarta, berada dalam kondisi akut. Hal itu ditunjukkan dengan kondisi seluruh badan membiru, perut membengkak hingga buang air besar berdarah.
Isnaniah membantah RS Islam Samarinda lalai dalam memberikan pelayanan kesehatan terhadap Danuarta. Menurutnya tudingan yang disampaikan orangtua korban, yakni pasangan Andi Kusworo dan Tina, itu tidak benar.
''Ada saja dokter saat Danuarta kritis. Tapi sekali lagi, dokter dan secara umum rumah sakit sudah memberikan pelayanan maksimal. Takdir bicara lain,'' kilah Isnaniah.
Mengenai sikap orang tua korban yang akan menempuh proses hukum, Islaniah enggan berkomentar banyak.Β "Kita berupaya dari rumah sakit untuk menemui orangtua dan keluarga korban. Itu dulu yang kita lakukan," ungkap Isnaniah. (djo/djo)











































