"Pengembangan obat tradisional sangat prospektif bagi warga yang menanam (tumbuhan obat). Dapat menjadi sumber ekonomi baru," kata Menkes disela-sela kunjungan ke Etalase Tanaman Obat di Tawangmangu, Solo, Minggu (8/3/2009).
Nilai ekonomi tanaman obat tardisional cukup menggiurkan. Setidaknya, menurut data Depkes, lebih dari 3 juta orang terlibat dalam produksi dan distribusi obat tradisional. Sementara transaksi perdagangan obat tradisional mencapai RP 4 Triliun pertahun.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pengembangan obat tradisional (herbal/jamu) dilakukan oleh Balai Besar Litbang Tanaman Obat dan Obat Tradisional (B2P2TO-OT). Balai tersebut memanfaatkan lahan 15 hektare di lereng Gunung Lawu untuk menjadi laboratorium obat. Ribuan jenis tumbuhan obat dari seluruh Indonesia dan sebagian dari luar negeri ditanam. Tumbuhan tersebut diteliti untuk diketahui khasiat dan manfaatnya. (Ari/irw)











































