Kejadian tersebut lalu dilaporkan orang tua korban, Tina dan Andi Kusworo, ke Poltabes Samarinda. Menurut pasangan ini anak mereka kondisinya memburuk setelah diberikan obat penurun panas oleh tenaga medis. Β
"Awal masuk kondisi anak saya bagus saja, tapi kok lama kelamaan badannya membiru," tutur Tina kepada detikcom di rumahnya Jl Sultan Sejati
Gg. Keluarga, Samarinda Ilir, Minggu (08/03/2009).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ketika itu nafas Danuarta terlihat semakin sesak. Upaya Tina dan Andi mencari pertolongan dokter hingga ke seluruh penjuru RSI Samarinda berakhir sia-sia, karena tidak ada satu pun dokter yang mereka temukan. Β
"Mestinya ada dokter jaga supaya untuk tangani kondisi darurat pasien
sewaktu-waktu. Tapi kok ini tidak ada dokter sama sekali?" gugat Tina.
Baru tiga jam kemudian Danuarta dilarikan ke ruang ICU. Diagnosa sementara saat itu menyatakan ada pembuluh darah Danuarta yang pecah, tapi yang paling mengkhawatirkan adalah perutnya yang semakin membesar.
Tak lama kemudian Danuarta pun meninggal dunia. Baru setelah dokter berinisial Rs yang menangani Danuarta sejak awal dirawat datang.
"Dia (Dokter Rs) bilang anak saya meninggal pukul 09.30 WITA. Penyebab
meninggalnya juga saya tidak tahu. Ada apa ini? Apalagi saya tidak diberi rekam medis anak saya sendiri. Saya tidak tahu sejak masuk RS anak saya diberi obat apa saja," sedu Tina.
Karena belum ada keterangan apa pun dari pihak RSI, kuat dugaan Danuarta meninggal akibat malpraktek. Tina dan Andi pun membawa kasus tersebut ke jalur hukum.
"Biar polisi dan hukum yang membuktikannya!" tegas Andi. (lh/lh)











































