"Tiga orang mengakunya polisi dari polres Jakarta Barat datang ke rumah saya, bawa suami saya," ujar istri korban, Nia (52), kepada wartawan di Mapolda Metro Jaya, Jl Sudirman, Jakarta Selatan, Jum'at (6/3/2009).
Peristiwa penculikan itu bermula ketika Nia dan suaminya bersiap-siap untuk tidur. Tiba-tiba, dirinya mendengar ketukan di pintu rumahnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Karena takut, Muhadi kemudian lari ke rumah kakaknya, Ilays (55) lewat pintu belakang. Anak kos yang mendengar ketukan pintu kemudian membukakan pintu rumahnya.
"Terus orang itu masuk ke kamar. Tanya suami saya kemana. Saya bilang suami saya nggak ada di rumah, tapi mereka ngga percaya. Terus buka-buka lemari," ujarnya.
Selama penggeledahan tersebut, oknum polisi itu, dikatakan dia, tidak menunjukkan surat penangkapan atau pun kartu keanggotaannya. Mereka pun, diungkapkan Nia, tidak menjelaskan maksud penangkapan Muhadi.
"Mereka Cuma bilang dari Polres Jakarta Barat, mau bawa suami ibu. Malah dia bilang, atau ibu mau saya bawa," jelasnya.
Karena polisi tersebut terus mendesak Nia, akhirnya Nia pun mengatakan keberadaan suaminya. Nia kemudian menelepon Ilyas dan meminta Ilyas untuk menyerahkan Muhadi.
Akhirnya, Ilyas pun datang ke rumah Nia bersama dengan Muhadi. Kemudian Muhadi dibawa ke Mapolres Jakarta Barat. Nia yang mengetahui peristiwa tersebut, akhirnya melapor ke Propam Polda Metro Jaya.
Dengan Nopol: STPL/028/III/2009/yanduan, dia melaporkan tiga orang oknum polisi yang tak dikenal itu. Dan hingga kini, Muhadi tidak diketahui keberadaannya.
"Saya belum cek ke Polres Jakbar, apa suami saya ada disana atau tidak," pungkasnya. (mei/irw)











































