Hendarman Curhat Soal Kemas & Salim di Markas Polisi

Hendarman Curhat Soal Kemas & Salim di Markas Polisi

- detikNews
Selasa, 03 Mar 2009 18:40 WIB
Hendarman Curhat Soal Kemas & Salim di Markas Polisi
Jakarta - Jaksa Agung Hendarman Supandji menumpahkan curahan isi hatinya (curhat). Dia bercerita soal Kemas Yahya Rahman dan M Salim. Dan isinya terkait dengan penugasan 2 jaksa senior itu sebagai pemantau korupsi.

"Saya memang mendapat kritikan keras karena seolah-olah memberikan jabatan. Tapi perlu diketahui, saya tidak berikan jabatan, tapi saya kasih pekerjaan," aku Hendarman di Bareskrim Mabes Polri di Jl Trunojoyo, Jakarta, Selasa (3/3/2009).

Dirinya merasa heran kenapa maksudnya yang ingin memberikan pekerjaan kepada Kemas dan Salim justru berbuntut panjang. Dikisahkan hendarman, awalnya Kemas yang sudah menjadi staf ahli Jaksa Agung selama 10 bulan menemuinya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kemas pun kemudian meminta pekerjaan kepada Hendarman karena merasa tidak memiliki kegiatan berarti selama dirinya mendapat hukuman disiplin sebagai staf ahli terkait kasus suap Urip Artalyta.

"Saya berikan pekerjaan karena ada acuannya. Itu mengacu pada Undang-undang Dasar 1945 pasal 28 D, bahwa setiap orang berhak memperoleh pekerjaan dan dapat imbalan dan diperlakukan adil dan layak," jelasnya.

Kemas dan Salim mendapat posisi sebagai Kordinator dan Wakil Kordinator Tim Satuan Khusus Supervisi dan Bimbingan Teknis Penuntutan Perkara Tindak Pidana Korupsi, Perikanan dan Ekonomi.

Atas alasan itu, Hendarman pun kemudian meneui Jampidsus Marwan Effendy mengingat keduanya mantan pejabat di bagian pidana khusus kejagung. Gayung rupanya bersambut, Marwan yang saat itu membutuhkan supervisi dalam satuan tugas penanganan korupsi yang memiliki 31 tim itu pun menerima ajuan Hendarman.

"Apakah kemas dan salim etis atau tidak diberi kerjaan itu? Tolak ukut etis atau tidaknya itu apa?" tanya Hendarman dengan nada bergetar. Pemberian Supervisi oleh Kemas dan salim kepada juniornya justru dikatakan Hendarman ibarat memberi obor penerang. Apa salah? Di mana sesat dan salah saya dalam menentukan kebijakan. Tunjukan kepada
saya!" ujarnya dengan emosi.

Padahal, menurut Hendarman, dirinya tidak pernah mendapat laporan buruk mengenai kinerja Kemas dan Salim. "Engga pernah saya dengar kemas dan salim menyuluhkan 'hai jaksa-jaksa junior, mari kita korupsi bersama'," paparnya.

Hendarman menuturkan, tugas supervisi tersebut bukanlah jabatan baru bagi Kemas dan Yahya. "Saya hanya memberi pekerjaan. Kalau tidak saya berikan pekerjaan, saya melanggar HAM dan konstitusi," kata dia.

Dan memang, tambah Hendarman, hal ini merupakan kritikan tajam bagi dirinya. "Tapi saya akan tetap bertanggungjawab," akunya. "Saya akan perbaiki demi institusi kejaksaan" tambahnya dengan nada berat berkisah.

Atas kritikan tersebut, kemas pun akhirnya meminta pencabutan dirinya. Pada Maret 2008, Kejaksaan mencopot Kemas dan Salim dari jabatannya sebagai Jaksa Agung Muda Pidana Khusus dan Direktur Penyidikan. Keduanya pun harus puas dengan hanya sebagai staf ahli Jaksa Agung. Selama ini, diakui hendarman,pekerjaan tim supervisi keteteran (terbengkalai).

Satu bulan menjalan tugasnya dalam tim satuan khusus tersebut dengan sangat baik. "Ada perkara yang mengendap, tapi dengan bimbingan kasus tersebut bisa maju ada perkembangan," tegas dia.

Sayangnya kemudian, ketika itu berjalan, ada orang-orang yang mempersoalkan hal tersebut. Banyak suara-suara dari luar Kejaksaan yang menolak karena keduanya disebut-sebut terlibat dengan kasus Artalyta Suryani.

Hendarman pun mencontohkan sejumlah nama yang masih diberi pekerjaan setelah menjalani hukuman penjara. Sementara Kemas dan Salim yang tidak pernah menjalani hukuman justru dipersoalkan.

Padahal, kata Hendarman, Kemas dan Salim hanya memberikan supervisi dan bimbingan kepada jaksa juniornya dalam menangani kasus. Pasalnya, masih banyak jaksa di daerah yang 'gelap' dalam penyidikan perkara.

"Itu ibarat memberi obor di dalam kegelapan. supaya mereka tidak nabrak-nabrak. Apakah itu salah? Apa saya suruh matikan saja obornya?," kata dia.

Hendarman menilai mereka yang mengkritik kebijakan tersebut orang luar yang tidak punya cukup pengetahuan. Meski demikian Hendarman mengucap terimakasih atas kritikan yang ditujukan pada dia.

"Yang paling tahu internal yang di dalam itu kita, yang tahu kita. Yang lain hanya intip-intip saja tapi bisa memberikan keterangan," tandas dia.

Di akhir curhatnya, Hendarman kembali menegaskan dirinya tidak melindungi Kemas dan Salim. Menurutnya dirinya hanya menegakkan peraturan. (nov/ndr)


Berita Terkait