15 Harimau Dibantai Warga Riau dalam 5 Tahun

15 Harimau Dibantai Warga Riau dalam 5 Tahun

- detikNews
Selasa, 03 Mar 2009 16:29 WIB
15 Harimau Dibantai Warga Riau dalam 5 Tahun
Pekanbaru - Konflik antara manusia dengan harimau sumatera di Riau cukup tinggi. Dalam hitungan lima tahun terakhir, sedikitnya sudah 15 ekor harimau sumatera tewas dibantai warga.

Data konflik itu disampaikan Juru Bicara WWF Riau, Sumantri dalam perbincangan dengan dengan detikcom, Selasa (03/03/2009) di Pekanbaru. Menurutnya, data yang dihimpun WWF sejak tahun 2005 hingga 2009 telah terjadi 37 konflik di Riau. Dari konflik itu antara manusia dan harimau sama-sama menjadi korban.

"Dari konflik yang berkepanjangan itu, lima orang tewas diserang harimau. Sekitar 14 orang mengalami luka-luka. Data itu termasuk konflik yang terjadi pada Februari 2009 dengan korban 4 ekor harimau mati, dua orang warga mengalami luka-luka di Kabupaten Indragiri Hilir," kata Sumantri alias Abeng.

Aktivis WWF ini menjelaskan, konflik ini paling banyak terjadi di wilayah Riau bagian utara. Yaitu meliputi kabupaten, Siak, Rokan Hulu, Rokan Hilir dan Kota Dumai. Konflik yang terus menerus terjadi tidak terlepas habitat harimau yang telah rusak.

"Ada beberapa faktor utama mengapa harimau harus keluar dari habitatnya. Misalnya kerusakan hutan, perburuan liar, pembukaan areal perkebunan serta aktivitas kebakaran hutan. Hal itu yang menyebabkan terjadinya konflik berkepanjangan antara manusia dan harimau," kata Abeng.

Sejumlah investigasi yang WWF selama ini, konflik ini sebagian besar dimanfaatkan para pemburu profesional. Artinya, ketika harimau memasuki perkampungan, biasanya warga meminta bantuan kelompok pemburu. Pemburu diminta warga untuk menangkap yang selanjutnya diminta untuk memindahkannya.

"Kalau warga sebenarnya juga enggan untuk membunuh harimau. Namun ketika meminta bantuan ke pemburu, disinilah dimanfaatkan para pemburu untuk menghabisi harimau. Karena memang organ tubuh harimau bernilai ekonomi," kata Abeng.

Dari bebera kasus konflik itu, hanya sebagian kecil bangkai harimau yang bisa disita. Selebihnya organ harimau itu tidak jelas keberadaannya. Kalau bangkainya tidak bisa disita, itu menunjukan organ tubuh harimau sudah diperdagangkan.

"Dan yang memiliki jaringan perdagangan satwa liar ini, biasanya para pemburu profesional. Makanya, kasus konflik ini jangan dibiarkan, sebab kondisi ini akan dimanfaatkan para pemburu untuk membantai harimau," kata Abeng. (cha/djo)


Berita Terkait