Harian Straits Times misalnya, memberitakan kedatangan orangtua David ke Singapore General Hospital untuk mengidentifikasi jenazah David.
Berita mengenai insiden penusukan Profesor Chan Kap Luk juga dimuat media Singapura lainnya termasuk Channel News Asia, Asia One, dan Today Online.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Pasti ada yang salah dalam sistem atau sikap dan tindakan prof sehingga membuat dia memutuskan untuk menyerang dan bunuh diri jika dia tak punya masalah mental," tulis anggota forum dengan nickname MonkeyBusters.
Hal senada disampaikan anggota forum dengan nickname Sunnyplaces. "Mungkin mahasiswa itu tidak senang dengan tindakan prof. Mungkin dia merasa apa yang dilakukan atau dikatakan prof padanya membuat dia merasa harus melakukan perbuatan itu. Kadang-kadang ketika terpojok, siapapun bisa menjadi sangat berbahaya," tulis sunnyplaces.
Yang menarik, ada beberapa peserta forum yang mengaitkan tindakan nekat David dengan ketiadaan toko-toko alat bantu seks di Singapura.
"Singapura tidak punya toko-toko alat bantu seks seperti di Ueno (Jepang). Karena itu, warga Singapura yang stres berat tak punya outlet bagi frustrasi dan masalah mereka. Itulah mengapa orang melakukan kejahatan seperti ini," cetus Pushkin62.
Sebagian mengaku memaklumi hal itu memang bisa terjadi di lingkungan kampus. "Universitas punya banyak masalah. Beruntung mahasiswa Indonesia itu tidak melakukan penusukan massal," tulis smc_6767.
(ita/iy)











































