"Joki di SIMAK UI ini sangat kecil kemungkinannya," kata Gumilar Rusliwa Somantri dalam jumpa pers di Kafe Dedaunan, Kebon Raya Bogor, Jabar, Minggu (1/3/2009).
Hal itu, lanjut Gumilar, karena pihaknya telah melakukan beberapa prosedur yang menyulitkan bagi para joki untuk melakukan aksinya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Gumilar menambahkan, praktek perjokian juga dapat diketahui dari pola-pola jawaban yang dilakukan oleh para joki.
"Belum lagi saat daftar ulang, akan dicek ulang foto yang bersangkutan. Dan bila ada kecurigaan, kita akan cek ke sekolah-sekolah terkait," ungkapnya.
"Jika ada joki yang tertangkap, UI akan bekerja sama dengan pihak kepolisian untuk menindaklanjuti joki tersebut," tegasya.
Orang Cacat
Dalam kesempatan yang sama, Gumilar menyatakan kampus yang dipimpinnya sangat terbuka bagi penyandang cacat (difable). UI, katanya, tidak menghalangi para penyandang cacat untuk bisa kuliah di kampus kuning tersebut.
"Karena kita konsisten untuk memberi akses ke semua orang. Kami tidak keberatan untuk terima difable. Tahun lalu juga ada sekitar 5 orang difable yang masuk UI, itu juga dapat beasiswa," katanya.
Gumilar menambahkan, pihaknya juga tidak menghalangi kalangan yang tidak mampu untuk belajar di UI.
"Yang tidak punya uang, juga dijamin 100 persen bisa masuk UI. Bahkan tidak menutup kemungkinan diberikan beasiswa bagi program S1 reguler," pungkasnya.
(lrn/asy)











































