Seperti dikutip reuters, Sabtu (28/2/2009), Nicole Hodges (23), seorang aktris yang telah lama tidak mendapat pekerjaan sejak November 2008 lalu misalnya, memutuskan untuk menjual sel telurnya karena membutuhkan uang tunai.
"Saya harus membayar uang kuliah. Saya juga mesti membayar tagihan kartu kredit dan Anda tahu ongkos apartemen di New York sangat mahal," kata Hodges, yang telah diterima sebagai donor oleh sepasang suami istri.
Harga yang diperoleh untuk menjual sel telur itu memang reltif menggiurkan, harganya mencapai US$ 10 ribu atau sekitar Rp 120 juta.
Hodges mengaku, selain mencari uang, dia mengaku ada kepuasan tertentu dengan menolong pasangan yang tidak subur.
"Uangnya memang menarik, tetapi lebih penting menolong seorang perempuan yang ingin menjadi ibu," tambahnya.
Organisasi mengenai kesuburan di AS memang menyatakan, seiring krisis ekonomi jumlah pendonor yang ingin menjual sel telur mereka mengalami peningkatan. Seperti organisasi pusat pengumpulan sel telur di Illionis yang mengalami peningkatan 40 persen sejak berdiri awal 2008 lalu.
Demikian juga organisasi serupa di New York yang mengalami peningkatan 10 persen. Anda tertarik?
(ndr/)











































