Demikian disampaikan pengamat pertahanan yang juga menjabat Direktur Eksekutif Institute of Defense and Security Studies (IODAS) Connie Rahakudini Bakrie dalam jumpa pers launching dan diksusi bukunya "Defending Indonesia" di Niaga Tower, Jl Sudirman, Jakarta Selatan, Jumat (27/2/2009).
"Kita mesti menyadari bahwa posisi kita sebenarnya terkepung dengan kekuatan India dan Cina di sebelah utara dan Australia di sebelah selatan," kata Connie, yang juga istri mantan Panglima Komando Strategi Cadangan AD (Pangkostrad) dan Irjen TNI, Letjen (Purn) Djaja Suparman ini.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ketegangan di kawasan Asia Pasifik, yang langsung dan tidak langsung akan berdampak di Indonesia ini, menurut Connie, tidak lain soal perebutan kekuasaan ladang minyal (oil). Apalagi dari hasil penelitian sebuah riset, dalam jangka waktu 25 tahun ke depan, persediaan minyak dunia semakin menipis.
Oleh karenannya, sejumlah negera, termasuk AS mencari sumber baru guna persediaan bahan bakar di dalam negaranya, begitu juga dengan Cina.
Investasi Cina dalam penambangan minyak di Afrika saja, lanjut Connie, membuat kawasan itu terus bergolak. "Ini juga yang perlu dicermati investasi Cina di Makassar, makanya Selat Malaka menjadi sangat penting," tandasnya.
Belum lagi soal isu Papua yang makin gencar provokasinya di luar negeri, khususnya di AS. "Saya kuatir kalau kita tidak menjaga negeri ini, tidak defense. Makannya kenapa Indonesia juga perlu penambahan kekuatan seperti kapal selam. Ini juga belum isu-isu yang berkembang di wilayah Timor Leste," ungkapnya.
Connie juga mengusulkan agar pemerintah melakukan kebijakan smart power atau kerjasama di bidang pertahanan dengan negara lain. Hanya saja, kerjasama militer dengan negara lain juga menimbulkan persoalan baru dengan adanya ketimpangan teknologi alutsista TNI. (zal/ndr)











































