Yang pertama, pesawat tersebut menjalani perbaikan setelah penerbangan 18 Februari lalu. Saat itu pilot melaporkan gangguan pada sirip sayap pesawat. Ini menyebabkan peningkatan daya angkat saat lepas landas dan menimbulkan tarikan saat pendaratan.
Demikian diberitakan saluran berita CNN-Turki seperti dilansir kantor berita AFP, Jumat (27/2/2009).
Kemudian pada 23 Februari, pilot membatalkan lepas landas ketika Master Caution Light, yang memonitor semua sistem kritis, menyala saat pesawat bersiap untuk lepas landas. Pesawat pun kembali menjalani perbaikan.
Puncaknya pada Rabu, 25 Februari lalu, pesawat tersebut jatuh sesaat akan mendarat di Bandara Schiphol. Menurut para penumpang selamat, suara mesin pesawat berhenti kemudian pesawat sempat bergetar dan jatuh begitu saja ke bumi. Pesawat pun rusak parah, terbelah menjadi tiga bagian. Sembilan orang tewas dan lebih dari 50 orang lainnya mengalami luka-luka, enam di antaranya masih dalam kondisi kritis.
Dugaan sementara jatuhnya pesawat disebabkan gangguan mesin. Namun temuan awal penyelidikan kemungkinan baru akan diketahui pekan depan. (ita/iy)











































