Beban rumah tangga yang semakin berat karena rokok ini diungkapkan Subardi (52 tahun), seorang sopir kopaja. Subardi mengakui pendapatannya per hari sebesar Rp 50 ribu, separuhnya digunakan untuk rokok.
Per harinya, Subardi menghisap 3 bungkus rokok sejak 30 tahun lalu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Subardi mengaku belum berani untuk berhenti merokok. Namun dirinya berjanji
sedikit demi sedikit akan mengurangi kecanduannya terhadap rokok.
"Mulai hari ini saya akan kurangi, apakah dengan makan permen atau apalah,"
kata Subardi sambil tersenyum.
Sementara peneliti Lembaga Demografi Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (UI) Ayke Soraya Kiting prihatin melihat fenomena rumah tangga miskin yang terbebani dengan rokok.
"Sudah miskin merokok lagi," ujar Ayke.
Berdasarkan Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 2006, 6 dari 10 rumah
tangga Indonesia atau sekitar 35,1 juta rumah tangga mempunyai pengeluaran untuk rokok.
"Rumah tangga perokok mengeluarkan biaya untuk tembakau dan sirih sebesar Rp 117.624 per bulan atau sebesar 9,29 persen dari seluruh pengeluaran rumah tangga," papar Ayke.
Sedangkan berdasarkan hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) yang dilakukan Badan Pusat Statistik (BPS) dan Departemen Kesehatan (Depkes) tahun 2007 menunjukan, bahwa rata-rata jumlah rokok per hari yang dihisap perokok di desa sebanyak 11 batang. Sedangkan perokok di kota menghabiskan 12 batang.
"Yang mengejutkan adalah rata-rata jumlah rokok yang dihisap oleh perempuan
mengalami kenaikan yang yang cukup tajam dari 10 batang per hari pada 2004
menjadi 16 batang per hari pada 2007," imbuhnya. (mpr/nwk)











































