"Saya belajar dari Osama bin Laden untuk mendoktrin orang-orang yang masih lugu. Saya pernah ketemu dan berpelukan dengan dia (Osama) di Afghanistan," aku Fajar Kaslim.
Hal itu diakui Fajar saat memberikan kesaksian atas 3 rekannya Agustiawarman, Heri Purwanto dan Sugiarto, di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Jl Ampera Raya, Jakarta Selatan, Kamis (26/2/2009).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Dugaan itu tidak benar, saya tidak kenal Abu Bakar Bassyir. Setelah Slamet Kastari tertangkap, saya jalan sendiri dan sejak saat itu saya terputus dari JI (Jamaah Islamiah)," lanjutnya.
Sebelumnya, Abdurrahman Taib dalam kesaksiannya mengaku Fajarlah yang merencanakan pembunuhan selaku orang yang dianggap berpengalaman. Taib sendiri diakui Fajar sebagai boneka-nya dan menjadi jembatan antara dirinya dengan masyarakat dalam hal perekrutan anggota.
Fajar juga mengaku, selalu mencari orang untuk direkrut dan didoktrin dengan sistem sel dimana setiap orang yang direkrut akan merekrut orang lainnya. Atas doktrinnya, Fajar mengatakan, ajaran tersebut adalah untuk kebaikan.
"Saya ajarkan mereka sebagai kegiatan amaliah, karena mereka rajin salat dan gampang diprovokasi," jelasnya seraya mengaku menggunakan banyak nama untuk menghindari pelacakan polisi.
Dikatakan Fajar, dirinya belajar banyak cara-cara merakit bom dari pengalamannya mengikuti wajib militer di singapura. "Saya ahlinya M-16, saya juga belajar bom di wajib militer," tandasnya.
Kelompok teroris Palembang yang ditangkap pada 1 juni 2008 disebutkan terkait dengan kelompok Jamaah Islamiyah (JI). Fajar kaslim sendiri diduga masuk ke Indonesia bersama Slamet Kastari, teroris nomor satu yang dicari di Singapura.
Rencananya sidang akan dilanjutkan pada 20 Januari 2009 untuk mendengarkan saksi.
(nov/irw)











































