Selain Ngebom Kafe, 'Teroris Palembang' juga Rencanakan Pembunuhan

Selain Ngebom Kafe, 'Teroris Palembang' juga Rencanakan Pembunuhan

- detikNews
Kamis, 26 Feb 2009 14:17 WIB
Jakarta - Sidang 'Teroris Palembang' kembali digelar di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan (PN Jaksel). Sidang kali ini mendengarkan keterangan 4 orang saksi yang 2 di antaranya adalah saksi ahli dari Mabes Polri.

Para saksi antara lain, pekerja di sebuah toko kimia "Sumber Kimia" di Palembang Sumaryani, 2 saksi ahli dari anggota Polri, Wahyudi dan Maruli Simanjuntak serta seorang saksi yang juga merupakan tersangka pelaku Teroris Palembang, Abdurrahman Taib.

Sumaryani mengaku tidak mengenal pelaku yang diduga pernah membeli bahan-bahan kimia di toko tempatnya bekerja.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Saya tidak mengenalnya," ujar Sumaryani saat ditanyakan oleh ketua majelis hakim, Aswan Nurcahyo apakah dirinya mengenal terdakwa Agustiawarman, Heri Purwanto dan Sugiarto di PN Jaksel, Jl Ampera Raya, Jakarta Selatan, Kamis (26/2/2009).

Namun dalam keterangannya, Sumaryani yang sudah bekerja di toko kimia sejak 2001, mengaku tidak hanya toko "Sumber Kimia" saja yang menjual bakan-bahan kimia sejenis di Palembang. "Ada toko lainnya yang saya tau juga menjual bahan kimia, dan cukup besar," katanya setelah menjelaskan bahan kimia apa saja yang di jual di toko tempatnya bekerja.

Setelah mendengarkan keterangan Sumaryani selama 10 menit, hakim sempat memanggil saksi berikutnya yakni Abdurrahman Taib. Β 

Selain percobaan pengeboman di Kafe Bedudal di Bukit Tinggi, Sumbar pada 2007, dalam keterangannya, Abdurrahman Taib alias Musa sempat mengaku kelompoknya pernah mencoba melakukan kegiatan pembunuhan terhadap dua orang pendeta. Kegiatan itu disepakati setelah adanya pertemuan tanpa lampu yang diakuinya dilakukan di kebun karet pada 2007.

"Kesepakatan mengenai pembunuhan diajukan oleh Fajar dan disepakati oleh anggota jemaah lainnya," ujarnya.

Pembunuhan terhadap dua pendeta diakuinya karena mendapat informasi adanya pencemaran agama oleh keduanya. Namun rencana tersebut tidak berhasil.

Rencana pembunuhan lainnya, mereka akui ditujukan pada seorang guru SMA di Palembang yang dilapori melecehkan siswanya yang mengenakan jilbab dan menjelekkan Nabi Muhammad. Guru ini pun kemudian dikatakan Taib ditembak dengan pistol oleh rekannya Toni.

Dari tiga kegiatan yang disebutkan Taib ini merupakan kegiatan amaliah. Selain amaliah, mereka juga mengaku merencanakan Faikh, dengan mengambil harta orang kafir. "Semua kegiatan ini biayanya dari proposal keagamaan yang kami bagikan," tandasnya.

Para terdakwa dalam kelompok Palembang ini dinilai mengotaki rencana pengeboman di sebuah Kafe Bedudal di Bukit Tinggi, Sumbar pada 2007. Mereka juga diduga terkait kelompok Jamaah Islamiyah (JI). (nov/anw)


Berita Terkait