Dalam kecelakaan pesawat Boeing 737-800 milik maskapai penerbangan Turkish Airlines tersebut, badan pesawat patah tiga bagian. Namun patahan itu cukup jauh dari kedua sayap pesawat. Bagian badan antara sayap diperkuat dengan kotak baja yang sangat kuat sehingga penumpang di area ini kecil kemungkinannya terkena pecahan logam ataupun puing-puing pesawat.
Demikian seperti diberitakan The Times, Kamis (26/2/2009).
Para penumpang di dekat pintu keluar darurat juga bisa menyelamatkan diri lebih cepat. Ingat bahwa tiap detik sangat berarti jika terjadi kebakaran pesawat.
Contoh paling nyata adalah kecelakaan pesawat American Airlines pada tahun 1995 di Colombia. Kecelakaan itu menewaskan 159 orang dan hanya empat orang yang selamat. Keempatnya duduk di kursi bagian sayap.
Studi oleh University of Greenwich menemukan bahwa antara dua dan lima deretan kursi dari pintu keluar, penumpang masih punya kesempatan lebih besar untuk meloloskan diri dari kebakaran. Enam deretan atau lebih dari pintu keluar "peluang tewas jauh melebihi peluang untuk selamat".
Namun belakangan ini muncul teori lain bahwa para penumpang lebih mungkin selamat jika mereka duduk di bagian belakang pesawat. Teori ini meraih momentum setelah tragedi terburuk penerbangan yang melibatkan pesawat Boeing 747 di Jepang pada tahun 1985. Kecelakaan tersebut menewaskan 520 orang ketika pesawat jatuh menghantam pegunungan. Hanya empat orang yang selamat dalam tragedi itu. Keempatnya duduk di empat deret bagian belakang pesawat.
Namun dalam musibah di Bandara Schiphol, teori itu tidak berlaku. Terbukti korban tewas termasuk mereka yang duduk di bagian belakang pesawat. Ini dikarenakan ekor pesawat lebih dulu menghantam bumi.
(ita/nrl)











































