Syahdan, Amelia bersama sahabatnya, Virnie, sedang main ke rumah sahabat perempuannya berinisial JA di kota J. Rumah JA supermewah, bigos alias oh big sekali. Saat itu orangtua JA sedang ke Singapura menghadiri pernikahan famili.
Tak beberapa lama di rumah tersebut, tiba-tiba Virnie jatuh pingsan. Seisi rumah panik. Diboponglah Virnie ke kamar terdekat dari tempat dia pingsan, yaitu kamar maminya JA. "Wow, kamarnya berukuran 10x10 m," tulis Amelia di bukunya, Miss Jinjing.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lemari itu penuh dengan tas-tas yang semua high end brand. Ada Hermes, Louis Vuitton, Bottega Veneta, Chanel dan lain-lain. "Jumlahnya?? Baru hitungan keseratus saja saya sudah pegal menghitungnya. Sedikitnya, di lemari itu ada 200 tas. Bisa jadi lebih!" tulis pengelola blog belanja-sampai-mati.blogspot.com ini.
Yang bikin Amelia serasa mau pingsan kedua kalinya adalah koleksi tas mamanya JA itu masih dalam keadaan baru, tidak pernah terpakai selama 30 tahun! Bahkan semuanya dalam keadaan sangat baik dan masih dengan barcode di dalamnya. Tak ayal, otomatis mulut Amelia ternganga.
"Mbak, kenapa? Ga usah heran, ya...mami gue emang sakit jiwa," ujar JA menggugah lamunan Amelia.
JA bercerita bahwa boro-boro minjem tas maminya, maminya sendiri tidak pernah memakai koleksinya itu.
"Mami tuh hanya mandangin tas-tasnya atau sambil nonton TV atau DVD, tasnya dilap-lap," kata JA.
Amelia menulis, koleksi maminya JA antara lain mini kelly in croco light gold, kelly in blue, kelly in phyton, birkin dalam berbagai warna.
"Ajaibnya, sang kolektor ini sangat cinta dengan segala prototype dari produk Louis Vuitton. Untuk satu model, dia punya semua varian warnanya. Misalnya, tas ransel epi leather LV dia punya warna cokelat, merah, hitam, kuning kunyit. Speedy, dia puya semua motif dari yang classic sampai limited edition dengan semua jenis ukuran. Damier dalam berbagai jenis. Monogram semua varian, dari canvas, tisse, multicolore, mini lin, vernis - dalam segala jenis warna dan bentuk. Belum lagi versi limited edition Murakami. Bikin mupeng," begitulah akhir cerita Amelia soal shopaholic sejati Indonesia. (nrl/iy)










































