Dephub Minta Lion Air Cek Semua Pesawat MD 90

Lion Air Mendarat Darurat

Dephub Minta Lion Air Cek Semua Pesawat MD 90

- detikNews
Selasa, 24 Feb 2009 17:40 WIB
Dephub Minta Lion Air Cek Semua Pesawat MD 90
Jakarta - Pesawat Lion Air yang mendarat darurat di Bandara Hang Nadim, Batam, merupakan seri MD 90-30. Departemen Perhubungan (Dephub) meminta pihak Lion Air mengecek semua pesawat MD 90-nya.

"Kami hanya memberikan informasi oral pada Lion Air, coba cek pesawat yang lain. Karena kalau saran itu KNKT yang berwenang memberikan dan KNKT masih investigasi, belum keluar hasilnya," ujar Direktur Kelaikan Pesawat dan Pengoperasian Pesawat Udara (DKPPPU) Direktorat Jenderal Perhubungan Udara (Ditjen Hubud) Dephub Yurlis Hasibuan ketika dihubungi detikcom, Selasa (24/2/2009)

Hal ini untuk menghindari insiden serupa. Yaitu tutup roda pesawat tidak membuka saat akan mendarat. Inspektur DKPPPU sendiri, imbuh Yurlis, sudah menuju Bandara Hang Nadim untuk memeriksa pesawat yang mengalami insiden tersebut.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Yurlis mengatakan ada lima unit pesawat jenis MD 90 yang semuanya dimiliki Lion Air.

"Kalau pesawat itu masih muda. Usianya kurang dari 20 tahun," katanya.

Dari situs hubud.dephub.go.id, Lion Air memiliki lima pesawat berjenis MD 90-30, dengan nomor registrasi PK-LIP, PK-LIO, PK-LIM, PK-LIL dan PK- LIK. Tahun pembuatan pesawat itu adalah tahun 1996-1998.

Sementara salah seorang pembaca detikcom Lie mengirim surat elektronik yang berisi keluhan. Lie menilai pesawat MD milik Lion Air/Wings Air tidak layak terbang.

"Waktu itu saya alami sendiri di saat mau landing roda pesawat tidak
mau keluar. Untungnya bisa keluar setelah dicoba hampir setengah jam. Pesawat dari Bali ke Surabaya, sekarang kejadian lagi di Batam. Untung tidak memakan korban. Bagaimana ini pihak kelaikan penerbangan, apa menunggu banyak korban mulai diadakan penyelidikan," ujar dia.

Insiden juga pernah menimpa pesawat MD 90 milik Lion Air. Kala itu kasusnya adalah fairing exhaust engine (penutup mesin) pada bodi pesawat terjatuh di landas pacu Bandara Soekarno-Hatta, yang bisa berbahaya bagi keselamatan pesawat yang take off-landing jika tak disingkirkan. Insiden ini terjadi pada 4 Desember 2007 silam.

Menanggapi hal ini, Yurlis mengatakan hal tersebut terlalu jauh jika  dikaitkan dengan seri pesawat.

"Itu kan kejadiannya isolated case, kejadian tidak umum. Seperti kejadian fairing jatuh, dan yang kemarin juga. Kalau ada 2 kali kejadian baru dikatakan umum. Kalau yang Bali-Surabaya itu saya nggak dapat informasinya, karena biasanya kalau ada kejadian saya dapat laporannya," jelasnya.

Menurut Yurlis, dunia penerbangan menggunakan parameter aman dan ekonomis untuk menggunakan jenis pesawat. Pesawat-pesawat yang berusia tua dan tidak ekonomis alias boros bahan bakar, secara alami akan tersingkir digantikan pesawat-pesawat baru.

"Ke depan pesawat kita paling tua berumur 15 tahun. Kalau ekonomi bagus, daya beli bagus, bisnis airline juga bisa bagus," kata dia. (nwk/nrl)


Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads