Dalam 2 Pekan, 3 Harimau Sumatera Dibunuh Warga Riau

Dalam 2 Pekan, 3 Harimau Sumatera Dibunuh Warga Riau

- detikNews
Selasa, 24 Feb 2009 16:09 WIB
Dalam 2 Pekan, 3 Harimau Sumatera Dibunuh Warga Riau
Pekanbaru - Konflik antara manusia dan harimau kembali terjadi di Riau. Kali ini tiga ekor harimau sumatera dibunuh warga dengan cara yang sadis. Alasannya binatang buas ini memangsa ternak warga.

Pembunuhan satwa dilindungi ini terjadi di Desa Tanjung Pasar, Kecamatan Pelasiran, Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil) Riau. Menurut seorang warga, Moko (45), pembunuhan terhadap harimau ini terpaksa dilakukan warga karena kerap memangsa ternak.

"Tiga ekor kambing saya habis dimangsa harimau. Bukan hanya milik saya saja, ternak warga lainnya juga dimangsanya juga. Binatang buas itu sering masuk keluar perkampungan kami," kata Moko dalam perbincangan dengan detikcom, Selasa (24/02/2009).

Moko menjelaskan, kondisi itu membuat masyarakat akhirnya sepakat memburu harimau itu. Caranya, warga membuat perangkap dan jerat di sekitar areal pertanian mereka. Dalam hitungan dua hari, dua ekor harimau masuk perangkap yang dipasang warga.

"Warga tidak membunuh harimau itu. Harimau itu mati di dalam perangkap yang dibuat warga. Bangkainya dibuang warga. Ini dilakukan masyarakat, karena harimau sudah keluar masuk perkampungan kami. Dua ekor harimau itu, masih tergolong remaja terdiri jantan dan betina," terang Moko.

Menurut Moko harimau itu mati dalam jerat sekitar dua pekan yang lalu. Saat dilakukan penjeratan, semua masyarakat desa terlibat untuk memburu harimau itu. Karena memang selama ini tidak ada tindakan apapun dari pemerintah setempat. Akhirnya warga sepakat untuk memburu dan membunuhnya.

Humas WWF dii Riau, Syamsidar kepada detikcom menyebut, sebenarnya ada tiga ekor harimau yang dibunuh warga. Yang pertama dua ekor yang diterjerat warga pada 10 Februari 2009. Sedangkan satu ekor lagi juga mati dibunuh warga pada 16 Februari 2009.

"Ini merupakan konflik yang paling tinggi di Riau. Bagaimana tidak, dalam hitungan dua pekan saja tiga ekor harimau mati dibunuh warga. Kalau ini terus dibiarkan, maka ini akan menjadi ancaman tersendiri bagi populasi harimau sumatera yang kian langka," kata Syamsidar.

Menurutnya, pembunuhan dengan cara dijerat ini, sebenarnya tidak berhak dilakukan warga sekalipun di daerah tersebut terjadi konflik. Sesuai dengan aturan yang ada, penanganan konflik ini harus ditangani Departeman Kehutanan, yakni Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA).

"Masyarakat sama sekali tidak berhak untuk melakukan penanganan konflik dengan cara membunuh. Kami sangat menyayangkan kasus pembunuhan tiga ekor harimau ini," kata Syamsidar.

Terjadinya konflik di daerah tersebut, kata Syamsidar, disebabkan habitat harimau yang telah beralih fungsi. Sehingga harimau terpaksa mencari makan ke perkampungan penduduk. Apa lagi jarak hutan eks HPH dengan perkampungan itu tidaklah terlalu jauh. Sehingga sangat memungkinkan, harimau memasuki kawasan perkampungan.

Di lokasi tiga ekor harimau yang mati ini,kata Syamsidar, lokasinya bersebelahan dengan Kecamatan Gaung di kabupaten yang sama. Dimana kemarin, dua warga diserang harimau sumatera. Diperkirakan, harimau yang keluar masuk perkampungan itu masih dalam satu habitat yang sama. (cha/djo)


Berita Terkait