Brussel selama dua hari (21-22/2/2009) nyaris menjadi koloni kebudayaan Indonesia, mulai dari tari Muli Betangkai (dari Lampung), Piring Cupa (Sumatera Barat), Warok (Jawa Timur), Bajidor Kahot, Jaipong (Jawa Barat), Gong Mandau (Kalimantan) dan Mambo Simbo (Papua).
Laksana zamrud nan bertebaran di katulistiwa, kekayaan kebudayaan itu disempurnakan dengan hospitality yang tak tergerus oleh zaman: aneka ragam makanan Indonesia disajikan, siapa saja boleh mencoba dan merasakan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Goyang Bajidor Kahot dan Jaipong, dengan deraan perkusi yang menggelegak, menggenjot adrenalin pengunjung dan menghangatkan temperatur pengusir hawa dingin di musim winter ini. Aura Indonesia diperkuat dengan gapura Bali, batik, tenun, sofa rotan dan kerajinan tangan lainnya.
Stan Indonesia dibuka oleh Dirjen Amerika Eropa Deplu Retno L.P Marsudi bersama Perdana Menteri Negara Bagian Vlanderen Kris Peeters, disaksikan Dubes RI untuk Belgia, Luksemburg dan Uni Eropa (UE) Nadjib Riphat Kesoema, Ketua Penyelenggara Pameran Asia Fair Gilbert Roels dan Walikota Wemmel, Marcel Van Langenhove dan dihadiri perwakilan negara sahabat.
Priatna menjelaskan bahwa pameran pariwisata ini hanya diselenggarakan sekali setiap tahun dan menjadi pameran pariwisata terbesar dengan produk industri wisata yang khusus memfokuskan Asia.
Dari partisipasi ini diharapkan jumlah turis Belgia ke Indonesia terus meningkat. Jumlah turis Belgia ke luarnegeri memang sangat menggiurkan untuk terus digarap. Menurut data Biro Statistik Belgia jumlah turis Belgia ke luar negeri tercatat 6.849.759 (long stay) dan 2.044.843 (short stay).
(es/es)











































