"Kampus itu bukan tempat konser. Intinya saya tidak terlalu suka kalau ada konser yang memungkinkan menjadi rusuh, kampus kotor, pohon rusak. Kalau terjadi konser, dan ada yang rusak mereka tidak pernah mikir," kata Rektor UI Gumilar Rusliwa Soemantri pada detikcom, Jumat (20/2/2009).
Menurutnya walaupun di acara itu yang disampaikan lagu Munir, tapi tidak menjamin tiadanya kerusuhan. "UI mendukung soal Munir, dan kita mendukung bila dilakukan diskusi, di sana semuanya diperdebatkan. Pada prinsipnya UI pro penegakan HAM, keadilan, dan kejujuran," jelasnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Jangan konser seperti itu, konser orkestra atau simponi klasik atau konser soft yang mengundang Iwan Fals lebih baik. Atau dengan grup band yang track recordnya bukan band yang memiliki track record rusuh," jelasnya.
Bagaimana dengan tudingan pelarangan acara karena ada alasan politis? "Nothing related. Kita adalah lembaga akademik dan ini lembaga independen, dan kita merupakan lembaga yang mempunyai tanggung jawab membangun peradaban di tataran lebih luas dan tidak ada alasan terkait ini itu," tutupnya.
Konser 'Tribute to Munir' sejatinya digelar pada 20 Februari 2009 dengan menampilkan grup band Nidji dan Efek Rumah Kaca. Juga beberapa penyanyi lainnya. Selain itu ada juga pembacaan puisiย dan renungan.
Namun pihak UI membatalkan acara ini dengan alasan tersebut di atas, walau sempat ditengarai pihak UI membatalkan acara karena alasan politis. Kini acara ini rencananya akan digelar di Universitas Padjadjaran Bandung. (ndr/nrl)











































