"Ibu Menteri mau mampir ke sini," kata Naryo, begitu ia nyaman dipanggil, kepada detikcom, Kamis (19/2/2009).
Yang lebih membuat dirinya deg-degan, menteri itu berasal dari AS, negeri yang jauhnya beribu-ribu mil dari Indonesia, Hillary Clinton. Tak heran, bagi seorang Naryo, lawatan pejabat tinggi tersebut tak boleh melihat celah sedikit pun.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selepas Matahari di atas kepala, rasa gembira Sunaryo berbuah. Ibu Menteri muncul melewati gang sempit yang padat dan sedikit kumuh.
Bercampur dengan kegembiraan ratusan warga lain, semua seperti terhipnotis saat Hillary menyapa warga. Tangannya melambai ke kerumunan warga. Sesekali menyalami dan bercakap-cakap sebentar.
Dan yang begitu membuat warga terpukau adalah senyum Hillary yang sangat hangat. Bibir tipis dengan besutan lipstik merah mewakili bahasa wajah yang lembut dan santun.
"Sangat sopan dan tidak sungkan ke sini," ucap salah satu warga, Suryatin, usai menyaksikan kehadiran Hillary.
Senyum itu tidak pernah lepas sejak mantan Lady First tersebut begitu menginjakkan kaki di tanah Indonesia. Saat bertemu Menlu Hassan Wirajuda maupun bertamu ke Sekretariat ASEAN dan berkunjung ke Istana Negara, Hillary terlihat kelasnya sebagai seorang diplomat ulung yang merepresentasikan negaranya: negara adikuasa yang hendak berubah lebih bersahabat.
Upaya tersebut terlihat pada semua kesempatan. Sejak turun dari mobilnya, ia langsung menyapa, menebar senyum dan melambaikan tangan. Ia pun tidak sungkan mendongak melakukan kontak mata dengan lawan bicara serta berinisiatif untuk bersalaman terlebih dahulu.
Tampaknya, ia hendak menancapkan kesan mendalam dan menembus batas kekakuan dari para pendahulunya, Condoleezza Rice dan Bush Jr. Serta pesan dari masyarakat Amerika bahwa kami (Amerika) membutuhkan engkau, wahai masyarakat dunia.
Tak heran, semalam di Jakarta terlalu singkat. "Mampirlah kembali, Ibu Hillary," bisik Suryatin selesai kepergian Hillary. (Ari/nrl)











































