"Belum ada peningkatan status berdasarkan hasil evaluasi pada awal tahun ini. Masih aktif normal," kata Kepala Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kegunungapian (BPPTK) DIY, Subandrio, kepada wartawan di sela-sela acara 'Refleksi 1000 Hari Peringatan Gempa Bumi Yogyakarta', di Balai Senat Universitas Gadjah Mada (UGM) Bulaksumur, Kamis (19/2/2009).
Subandrio mengatakan sampai saat ini, kondisi Merapi masih stabil danย menunjukkan belum ada peningkatan aktifitas. Sisa material hasil erupsi tahun 2006 lalu sebanyak 10 juta meter kubik juga habis terbawa air hujan ke sungai-sungai yang berhulu di Merapi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut dia, hasil evaluasi tim dari BPPTK saat ini pertumbuhan kubah baru juga sudah berhenti. Kubah gunung yang sekarang ini sudah tidak tumbuh lagi dan sudah stabil kondisinya.
Dia menambahkan selama musim penghujan tahun ini, curah hujan yang turun di sekitar gunung juga tidak terlalu tinggi dibandingkan tahun sebelumnya. Dengan demikian ancaman bahya sekunder berupa banjir lahar juga jarang terjadi.
"Ancaman banjir lahar memang ada, ada tidak sebesar tahun lalu. Itu berdasarkan data curah hujan dari BMG memang kecil," katanya.
Dalam kesempatan itu dia juga mengkritik banyaknya dam atau bendungan yang dibangun di sungai-sungai yang berhulu di Merapi. Dam yang berfungsi mengatasi banjir di bagian hilir dan menampung material gunung, namun justru mengakibatkan aktivitas penambangan semakin ke atas.
"Ini problemnya sekarang ini, para penambang semakin nekat terus naik ke atas. Karena pasir di dam sudah semakin habis. Mereka juga seringkali mengabaikan resiko yang harus dihadapi," pungkas dia. (bgs/djo)











































