Pada periode itu tercatat 37 anggota Korps Perdamaian bertugas di Indonesia. Salah satunya bernama Ed Axline, yang mengembangkan olahraga bisbol di Indonesia. Ed Axline juga ikut mengembangkan tim bisbol Red Fox yang menjadi cikal bakal timnas bisbol RI yang dipersiapkan untuk berlaga pada Ganefo II tahun 1965.
Namun situasi politik di Indonesia yang saat itu berkiblat pada Uni Sovyet dan Rebublik Rakyat China membuat hubungan Indonesia dengan AS kurang harmonis. Saat itu bermunculan demo-demo anti neokolonialisme-imperialisme. Berbagai film dan lagu yang berbau AS pun dilarang.
Pada 15 April 1965 Presiden Soekarno dan diplomat AS Ellsworth Bunker sepakat untuk mengakhiri kinerja Korps Perdamaian di Indonesia terkait suhu politik pada waktu itu.
Sesuai tugasnya, Korps Perdamaian bekerja di bidang sosial. Seperti Ed Axline yang mengembangkan bisbol atau pun menjadi pengajar di universitas negeri kala itu.
(rdf/nrl)











































